Di dalam cerita itu, sang ayah menjelang ajal berkata bahwa ada harta karun di ladang anggur mereka.
Tentu saja, anak-anaknya yang malas mendadak bekerja keras—karena harta selalu terdengar lebih menarik daripada cangkul.
Namun yang mereka temukan bukan peti emas, melainkan tanah yang akhirnya subur karena dicangkul berulang-ulang.
Harta karunnya bukan benda, tetapi kebiasaan bekerja.
Kisah itu terasa jauh, tetapi sejatinya dekat.
Di Kalimantan Barat, kita pun punya ladang—bukan anggur, tetapi lada diperbatasan Entikong – Bengkayang (Batu Ampar dalam kunjungan penulis bersama Emeritus Mgr. Agustinus Agus), jeruk Sambas (dulu terkenal di Tebas), padi di Sungai Kakap, Mempawah, serta sawit yang membentang dari Ketapang sampai Sanggau, masih banyak wilayah yang tak bisa saya sebutkan satu per satu.
Kita pun punya generasi muda yang sebagian bekerja keras, dan sebagian lain—marilah kita jujur—sedang menunggu “harta karun” berupa rezeki instan, dari konten viral, trading cepat, uang gaib, hingga mentalitas “biar nanti ada jalan”.
Padahal, hidup memang bukan tebakan. Tidak ada rumus “tunggu saja, nanti berubah”.
Tidak ada panen dari tanah yang tidak pernah dicangkul. Kita hidup dalam dunia nyata, bukan dalam undian berhadiah.
Harta Karun itu Tak Pernah Dikubur
Dalam cerita itu, sang petani tidak berkata bohong. Ia memang meninggalkan harta karun, hanya saja bukan dalam bentuk yang dipahami anak-anaknya.
Simbol “harta karun” mewakili nilai hidup yang tak bisa diwariskan sebagai benda, hanya sebagai kesadaran.
Dalam ekonomi, simbol bekerja sebagai jembatan, artinya ia tidak memberi jawaban, tetapi mengundang pembacanya untuk berpikir, analisis dan melakukannya.
Harta karun itu serupa dengan etos dan tanah merupakan ‘arena’ - potensi. Cangkul itu bisa berupa ‘proses’, ilmu pengetahuan dan sebagainya.
Kemudian panen itu merupakan hasil yang lahir dari sesuatu yang dapat diulang, - sekali lagi ini bukan lah kebetulan.