The poor di era disrupsi ini bukan lagi sekadar mereka yang dompetnya tipis bahkan kosong, melainkan anak-anak yang menyandang status “miskin akademik” di atas kertas; mereka yang tidak memiliki privilese kompetisi untuk bersaing dalam angka-angka standar nasional.
Menolak Menjadi Salon Kecantikan
Pendidikan tinggi hari ini sedang dipaksa oleh sistem untuk menjadi salon kecantikan: hanya mau menerima yang sudah rupawan (unggul secara input) untuk dipoles sedikit, demi mengejar label akreditasi dan kepuasan statistik.
Jika universitas swasta di daerah ikut-ikutan menutup pintu bagi anak-anak dengan potensi mentah ini demi alasan gengsi institusional, maka kita sedang ikut serta membuang mereka yang sudah ditolak oleh negaranya sendiri. Mereka akan semakin terpuruk, karena bahkan di tanah mereka sendiri, tidak ada lagi ruang yang mau merawat harapan mereka.
Universitas sejati tidak diukur dari seberapa banyak orang yang berhasil ia tolak, melainkan dari seberapa besar transformasi yang mampu ia hasilkan pada jiwa-jiwa yang awalnya tidak diperhitungkan. Sebab, jauh lebih heroik menjadi institusi yang berdarah-darah menempa tanah liat hingga berwujud keramik berharga, ketimbang sekadar menjadi mesin poles yang menggosok emas agar tampak sedikit lebih berkilau.
Panggilan Perutusan Kampus Katolik
Merayakan Yubileum 800 tahun Fransiskus Assisi bukanlah tentang ritus seremonial yang megah, melainkan tentang keberanian mengambil pilihan fundamental (preferential option for the poor). Sebagai institusi pendidikan tinggi Katolik, kita dipanggil untuk tidak menjadi mandor industri atau sekadar pemburu angka akreditasi yang kaku.
Kampus harus berani menjadi bengkel kemanusiaan, sebuah tempat perlindungan yang ramah bagi anak-anak daerah yang “termarjinalkan secara akademik”. Kita tidak mengabaikan kualitas; kita justru sedang mendefinisikan ulang kualitas sejati. Kualitas yang diukur dari ketekunan kita mengasah potensi-potensi tersembunyi yang terabaikan oleh radar statistik nasional.
Mari kita jaga agar gerbang perguruan tinggi kita tetap menjadi gerbang harapan. Jangan biarkan anak-anak dari pelosok daerah pulang dengan tangan hampa dan hati yang patah, hanya karena nilai di kertas mereka tidak memenuhi standar dunia yang egois. Di sinilah, nyala api cinta pada manusia-manusia yang terlupakan harus tetap dihidupkan. Pace e Bene. ***
Nota Bene:
Tulisan ini merupakan murni catatan refleksi pribadi penulis yang dipantik oleh salah satu poin penutup dalam pemaparan Mgr. Dr. Samuel Oton Sidin pada seminar tersebut. Penarikan substansi materi ke dalam analisis fenomena akreditasi, seleksi kampus, dan istilah “kemiskinan akademik” adalah hasil kontekstualisasi mandiri dari penulis, dan tidak mewakili materi seminar secara keseluruhan maupun pernyataan literal dari Mgr. Samuel.