Kesaksian Nur Azizah, ibu dr. Eliza Princila Utami Pakaenoni atau dr. Icha, menjadi sorotan dalam prosesi pemakaman putrinya di Kabupaten Kupang, Senin, 29 Juni 2026.
Nur Azizah mengungkap percakapan terakhir dengan dr. Icha yang menurut keluarga berkaitan dengan dugaan intimidasi saat sang anak bertugas sebagai dokter di RS Leona Kefamenanu.
Hingga kini, dugaan tersebut masih didalami kepolisian dan diinvestigasi Kementerian Kesehatan (Kemenkes).
Dengan suara bergetar, Nur Azizah menceritakan percakapan terakhir yang hingga kini terus membekas dalam ingatannya.
Suara Jerit Tangis dalam Telepon
Nur mengisahkan, putrinya sempat menghubunginya melalui telepon dalam kondisi menangis setelah bertugas menangani pasien anak korban gigitan ular di RS Leona Kefamenanu.
Menurutnya, dr. Icha merasa tertekan karena mengaku mendapat perlakuan yang membuatnya ketakutan, meski telah menjalankan tindakan medis sesuai prosedur.
"Anak saya menelepon sambil menangis dan menjerit," kata Nur Azizah dikutip dalam keterangannya, pada Selasa, 30 Juni 2026.
"Dia berkata, 'Mama, saya sedang diintimidasi anggota dewan'," ungkapnya.
Nur mengatakan, putrinya juga sempat meyakinkan bahwa keputusan medis yang diambil bukan dilakukan sendiri.
Sebelum menangani pasien, dr. Icha disebut telah berkonsultasi dengan dokter spesialis yang berkompeten menangani kasus gigitan ular.
"Dia berkata lagi, 'Saya sudah berkonsultasi dengan dokter ahli bisa ular satu-satunya di Indonesia, dr. Tri Maharani'," terang Nur Azizah.
Upaya sang Ibu Tenangkan Putrinya
Mendengar cerita tersebut, Nur sempat berusaha menenangkan putrinya.
Sebagai Kepala Laboratorium Kesehatan Provinsi NTT, Nur memahami bahwa izin praktik dokter maupun operasional rumah sakit tidak dapat dihentikan secara sepihak.