Karena tendanya tidak lagi dapat digunakan, Hilario terpaksa tidur di kursi panjang dengan alas matras. Namun pengalaman itu justru disikapinya dengan penuh rasa syukur.
"Saya bersyukur pernah mengalami ini. Saya bisa merasakan langsung dampak banjir akibat curah hujan yang tinggi," ujarnya sambil tertawa dan mengabadikan momen tersebut melalui foto dan video.
Selain disiplin dalam perjalanan, Hilario juga sangat memperhatikan kebugaran fisiknya.
Ia rutin berolahraga sebelum tidur maupun setelah bangun tidur, serta menjaga pola makan secara teratur.
Ia hanya mengonsumsi makanan sesuai kebutuhan tubuhnya dan selalu menghormati barang milik orang lain.
Buah-buahan atau makanan yang tersedia di lemari pendingin tidak pernah disentuhnya tanpa izin atau tawaran dari pemilik rumah.
Ketika ditawari teh atau kopi, Hilario sering memilih untuk meraciknya sendiri. Dengan penuh semangat ia kerap berseru, "Cappuccino!" sambil tertawa.
Kedisiplinan juga tampak dalam pengelolaan waktunya.
Mulai dari jam tidur, bangun pagi, sarapan, bekerja, hingga bertemu kolega, semuanya dijalani sesuai jadwal yang telah ditetapkannya.
Saat sedang bekerja menggunakan laptop kecil miliknya, ia tidak segan menolak panggilan telepon yang dianggap dapat mengganggu konsentrasinya.
"Maaf, saya sedang bekerja. Nanti saya telepon kembali," begitu kalimat yang sering diucapkannya.
Menjelang keberangkatan, anggota komunitas FRKP kembali dibuat kagum.
Ruang tamu yang selama hampir dua pekan digunakannya tampak bersih dan rapi.
Ternyata sejak pagi Hilario telah membersihkan seluruh area yang ditempatinya, termasuk membereskan sampah dan perlengkapan pribadinya.
Artikel Terkait
Pabrikan Motor Italia Investasi di Indonesia, Pecinta Vespa Sabar Ya Motor Sedang Dirakit
Video Tersebar: Diduga Wakil Menteri Desa Prof Paiman Raharjo Dukung Gibran di Pilpres, Begini Katanya
Vespa 946 10° Anniversario Limited Edition Hadir dengan Harga Rp 260 Juta, Ini Spesifikasinya
Vespa Kesayangan Babe Cabita Terjual Rp212 Juta, Juragan 99 Kalah di Detik-detik Akhir!
WNA Italia Aniaya Warga Denpasar Gara-gara Masak
Menembus Batas Altar, Kiprah Kemanusiaan Tanpa Sekat Bruder Stephanus Paiman OFM Cap