Vatikan Gunakan Bahasa Indonesia Secara Resmi, Kardinal Suharyo Ungkap Dua Alasan Penting saat Terima Kunjungan PWKI

photo author
Steve Vantax, Pontianak Globe
- Jumat, 8 Mei 2026 | 10:21 WIB
Audiensi Paguyuban Wartawan Katolik Indonesia (PWKI) dengan Ignatius Kardinal Suharyo membahas penguatan diplomasi budaya dan komunikasi Gereja Indonesia di tingkat internasional melalui Vatican News berbahasa Indonesia. (Dok. Pontianak Globe)
Audiensi Paguyuban Wartawan Katolik Indonesia (PWKI) dengan Ignatius Kardinal Suharyo membahas penguatan diplomasi budaya dan komunikasi Gereja Indonesia di tingkat internasional melalui Vatican News berbahasa Indonesia. (Dok. Pontianak Globe)

“Banyak cerita positif dari Indonesia selama ini tidak dapat dikomunikasikan secara internasional. Semoga sekarang sudah ada pintu masuknya,” ujarnya.

Baca Juga: Remaja Tewas Dibacok, Kronologi Versi Warga

Inisiatif penggunaan bahasa Indonesia di Vatikan sendiri mulai digagas sejak Juni 2022. Pada 10 April 2024, delegasi PWKI yang dipimpin Mayong Suryo Laksono secara resmi berpamitan kepada Kardinal Suharyo terkait rencana kerja sama tersebut.

Adapun penandatanganan MoU penggunaan bahasa Indonesia secara resmi dilakukan pada 25 Maret 2026 antara Dikasteri Komunikasi Vatikan dan Komisi Komunikasi Sosial Konferensi Waligereja Indonesia (Komsos KWI) di Vatikan.

Tantangan dan Harapan

Meski optimistis, Kardinal Suharyo mengingatkan adanya tantangan dalam pelaksanaan penggunaan bahasa Indonesia di Vatican News, terutama terkait pembiayaan dan keberlanjutan program.

Ia mencontohkan pengalaman Radio Veritas Filipina yang pernah memiliki layanan bahasa Indonesia, namun akhirnya dihentikan karena biaya operasional yang terus meningkat.

“Jadi tantangannya seperti itu, tidak mudah,” kata Kardinal Suharyo.

Di sisi lain, ia menilai Gereja Katolik Indonesia justru lebih maju dalam sejumlah praktik pastoral dibandingkan gereja-gereja di Eropa.

Salah satunya terkait konsep sinodalitas atau “berjalan bersama” yang kini menjadi perhatian utama Gereja universal.

“Yang dibicarakan dalam sinode nanti sebenarnya sudah kita lakukan di Indonesia sejak puluhan tahun lalu,” ujarnya.

Ia mencontohkan keberadaan dewan paroki, ketua lingkungan, dan sistem pengambilan keputusan bersama yang telah lama diterapkan di Indonesia.

Kardinal Suharyo juga menyebut gagasan Gereja yang hadir di tengah dunia sebenarnya telah dicetuskan oleh Albertus Soegijapranata sejak 1934, jauh sebelum Konsili Vatikan II berlangsung pada 1962.

Menurutnya, berbagai pemikiran dan praktik Gereja Indonesia sebenarnya sangat maju, namun kurang dikenal secara luas di dunia internasional.

“Sayangnya, informasi tentang itu tidak keluar,” tegasnya.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Steve Vantax

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X