PONTIANAKGLOBE.COM, ACEH TIMUR -- Banjir bandang dan tanah longsor yang melanda wilayah Sumatera pada akhir November 2025 hingga kini masih menyisakan luka mendalam bagi warga terdampak.
Kerusakan parah akibat bencana tersebut menyebabkan banyak warga di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat kehilangan tempat tinggal.
Kondisi serupa dialami warga Desa Pante Kera, Kecamatan Simpang Jernih, Aceh Timur. Hingga saat ini, sebagian warga terpaksa mengungsi ke wilayah perbukitan demi menyelamatkan diri dari ancaman lanjutan bencana.
Baca Juga: Lebih 40 Hari Pascabanjir, Nakes di Aceh Tengah Seberangi Sungai Deras Demi Layani Warga
Dalam sebuah video yang diunggah akun Instagram @robi16.official, seorang anak warga Desa Pante Kera menceritakan kondisi keluarganya pascabanjir. Anak yang diketahui duduk di bangku kelas 2 sekolah dasar itu mengatakan bahwa ia bersama orang tuanya kini tinggal di tenda darurat di atas bukit.
“Sekarang tinggal di bukit, di tenda bersama orang tua juga,” ucapnya, dikutip pada Kamis, 15 Januari 2026.
Ia menuturkan rumah keluarganya rusak parah dan tenggelam akibat terjangan banjir bandang, memaksa mereka mengungsi ke tempat yang lebih tinggi.
“Sudah hanyut (rumahnya), dapurnya juga,” imbuhnya sembari menunjukkan sisa bangunan rumah yang hanya menyisakan lantai dan puing kayu yang berserakan.
Berdasarkan keterangan unggahan tersebut, warga yang mengungsi di perbukitan harus turun ke dapur umum untuk mendapatkan makanan dan minuman sehari-hari.
Lebih lanjut, anak itu juga mengungkapkan bahwa aktivitas sekolahnya terhenti karena bangunan sekolah ikut terdampak banjir. Seragam sekolah serta pakaian miliknya pun hanyut terbawa arus.
“Sekarang nggak sekolah, kena banjir juga. (Seragam) nggak ada, hanyut,” tuturnya.
Baca Juga: Demi Sekolah, Anak-Anak Aceh Tengah Lewati Jembatan Tinggal Besi
Pantauan di Desa Pante Kera menunjukkan lumpur serta tumpukan kayu masih memenuhi sejumlah titik permukiman warga. Akses menuju desa tersebut hingga kini juga belum pulih sepenuhnya.
Secara geografis, Desa Pante Kera berada di wilayah pedalaman dengan kondisi medan yang sulit, termasuk sungai besar yang memisahkan antarwilayah.
Warga maupun relawan harus menggunakan rakit untuk menyeberang sungai guna mencapai desa tersebut.
Artikel Terkait
Jalan Putus, Jembatan Hancur: Bupati Aceh Timur Nekat Tembus Daerah Isolasi
Ratusan Personel TNI dan Gabungan BNPB Bersihkan RS dan Sekolah Pascabencana Aceh Timur
Sebulan Pascabanjir Aceh Timur, Warga Masih Bayar Mahal untuk Bersihkan Lumpur
Aceh Tengah Disebut Baik-baik Saja, Relawan Tunjukkan Takengon Masih Dikepung Longsor
Kesaksian Bocah Aceh Tamiang, Air Banjir Naik Hingga Seatap Rumah
Tiket ke Aceh Mahal, Menkes Ungkap Relawan Medis Harus Masuk Lewat Malaysia