Bayi 2 Tahun Terlepas Saat Menyusu, Ayah Ungkap Detik-detik Mumtaz Hanyut Diterjang Banjir Garoga

photo author
Judirho Aho, Pontianak Globe
- Selasa, 23 Desember 2025 | 11:19 WIB
Kesaksian warga Desa Garoga, Tapanuli Selatan saat banjir datang dan menyeret anaknya.  (Dok. Instagram/sibangzul)
Kesaksian warga Desa Garoga, Tapanuli Selatan saat banjir datang dan menyeret anaknya. (Dok. Instagram/sibangzul)

PONTIANAKGLOBE.COM, TAPANULI TENGAH -- Banjir bandang dan tanah longsor yang melanda Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat menyisakan duka mendalam bagi ribuan warga. Di balik angka korban dan rumah yang hancur, tersimpan kisah pilu keluarga yang kehilangan orang tercinta.

Salah satunya dialami seorang ayah di Garoga, Tapanuli Tengah, Sumatera Utara. Dalam video yang diunggah akun Instagram @sibangzul_ pada Minggu (21/12/2025), ia menceritakan bagaimana putrinya, Mumtaz, yang baru berusia 2 tahun, menjadi korban banjir bandang.

Baca Juga: Di Tengah Banjir dan Longsor, Anak-anak Aceh Tunjukkan Akhlak Luar Biasa

Saat bencana datang, Mumtaz tengah berada dalam gendongan ibunya dan menyusu. Namun derasnya air sungai yang tiba-tiba naik disertai gelondongan kayu menghantam rumah mereka.

“Mumtaz, bayi 2 tahun yang lepas dari pelukan ibunya yang lagi menyusui saat banjir bandang di Garoga, Tapteng,” tulis keterangan dalam unggahan tersebut.

“Waktu banjir datang, ibu dan Mumtaza hanyut terseret arus, lagi nyusui sambil digendong. Kondisi Mumtaz lagi nangis, tiba-tiba air sungai naik dan langsung bawa gelondongan kayu,” ucap sang ayah dalam video itu.

Meski sang ibu terus memeluk erat anaknya, derasnya arus dan benturan kayu membuat pelukan itu terlepas. Mumtaz kemudian hilang terseret banjir.

Jenazah balita tersebut akhirnya ditemukan, namun dalam kondisi wajah yang sudah berubah. Rumah keluarga itu pun hancur, menyisakan puing dan batang-batang kayu besar di sekitarnya.

“Biasa waktu pulang kerja, selalu minta jalan-jalan dulu. Jadi, selama pulang ini selalu teringat Mumtaz,” tuturnya lirih.

Baca Juga: Polisi Izinkan Pelukan Ibu dan Anak, Warganet Tak Kuasa Menahan Air Mata

Desa Garoga sendiri menjadi salah satu wilayah dengan dampak terparah. Saat ini, pembersihan kayu menjadi fokus utama penanganan pascabencana.

Pemerintah melalui Kementerian Kehutanan melakukan pembersihan di bagian hilir, memantau potensi longsor di hulu, serta memberikan peringatan dini terkait kemungkinan banjir susulan yang membawa material kayu.

Pemerintah daerah juga menyatakan tengah menyiapkan pembangunan hunian tetap bagi para korban banjir dan longsor, termasuk warga Garoga, yang ditargetkan selesai pada awal 2026.***

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Judirho Aho

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X