Bukan Teroris, Pelaku Ledakan SMAN 72 Diduga Akibat Tekanan Psikologis

photo author
Nugroho Christian, Pontianak Globe
- Rabu, 12 November 2025 | 20:22 WIB
Polisi ungkap temuan baru soal kondisi mental ABH dalam insiden ledakan SMAN 72 Kelapa Gading.  (Dok. YouTube Polda Metro Jaya)
Polisi ungkap temuan baru soal kondisi mental ABH dalam insiden ledakan SMAN 72 Kelapa Gading. (Dok. YouTube Polda Metro Jaya)

PONTIANAKGLOBE.COM, JAKARTA -- Polda Metro Jaya mengungkap temuan baru terkait kasus ledakan di Masjid SMAN 72 Kelapa Gading, Jakarta Utara. Polisi menyebut bahwa pelaku, yang berstatus Anak Berhadapan dengan Hukum (ABH), kerap merasa terisolasi dan tidak memiliki tempat berbagi keluh kesah.

Dirkrimum Polda Metro Jaya, Kombes Iman Imanuddin, mengatakan hasil penyelidikan menunjukkan adanya tekanan emosional yang mendorong pelaku melakukan aksi berbahaya tersebut.

“Yang bersangkutan merasa sendiri, tidak ada tempat untuk menyampaikan keluh kesahnya, baik di lingkungan keluarga maupun sekolah,” ujar Iman dalam konferensi pers, Selasa, (11/11/2025).

Baca Juga: Drama Tari Sang Pahlawan Setia Angkat Kisah Tokoh Abdul Kadir, Pahlawan Nasional Asal Melawi

Minimnya ruang komunikasi di sekitar pelaku diduga membuat tekanan psikologisnya menumpuk hingga berujung pada tindakan ekstrem. Polisi menilai faktor sosial dan mental menjadi kunci untuk memahami akar masalah di balik tragedi itu.

Kapolda Metro Jaya Irjen Asep Edi Suheri menegaskan pelaku tidak terkait jaringan teror mana pun.

“Pelaku bertindak secara mandiri, tidak terhubung dengan kelompok teroris,” jelasnya.

Ia menyebut pelaku memiliki minat tinggi terhadap konten kekerasan di dunia maya yang berpotensi membentuk pola pikir menyimpang.

Penyelidikan juga mengungkap bahwa pelaku dikenal tertutup, jarang bergaul, dan lebih banyak menghabiskan waktu sendirian.

Baca Juga: Prabowo-Albanese Bertemu Lagi: Indonesia-Australia Siap Tingkatkan Kemitraan

Saat ini, pihak kepolisian bekerja sama dengan Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) dan tim trauma healing untuk menangani kasus ini dengan mempertimbangkan faktor usia dan kondisi psikologis pelaku.

Temuan baru ini membuat aparat menyoroti kembali pentingnya pendampingan psikososial di sekolah agar kasus serupa tidak terulang. Penyelidikan masih berlanjut untuk menelusuri latar belakang keluarga, aktivitas media sosial, dan jejak digital pelaku.***

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Nugroho Christian

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X