PONTIANAKGLOBE.COM, JAKARTA -- Presiden Prabowo Subianto resmi menganugerahkan gelar Pahlawan Nasional kepada Presiden ke-2 Republik Indonesia, Soeharto, dalam upacara di Istana Negara, Jakarta, pada Senin, (10/11/2025). Gelar ini diberikan atas jasa Soeharto dalam bidang militer dan politik yang dinilai berperan besar terhadap perjalanan bangsa Indonesia.
Sebelum penetapan resmi, usulan gelar bagi Soeharto sempat menimbulkan pro dan kontra di tengah masyarakat. Meski begitu, Menteri Kebudayaan Fadli Zon menegaskan bahwa keputusan tersebut telah melalui kajian panjang dan mendalam.
“Jasa-jasa mereka itu jelas, konkret, dan juga benar-benar merupakan aspirasi yang sudah terseleksi dengan proses yang cukup panjang,” ujar Fadli di Istana Kepresidenan, Jakarta Pusat.
Baca Juga: Bocah 4 Tahun Dijual Tiga Kali, Bilqis Ditemukan di Pedalaman Jambi
Fadli menjelaskan bahwa Soeharto memiliki catatan panjang dalam perjuangan militer, termasuk keterlibatannya dalam pertempuran Ambarawa, pertempuran lima hari di Semarang, serta perannya sebagai komandan Operasi Mandala dalam perebutan Irian Barat.
Dari sisi pembangunan nasional, Fadli menyebut Soeharto berhasil merancang Rencana Pembangunan Lima Tahun (Repelita) yang membantu menekan inflasi tinggi dan memperbaiki perekonomian nasional.
“Program Repelita berhasil menurunkan angka kemiskinan dan memperluas kesempatan pendidikan. Banyak sekolah dibangun di era beliau,” ungkap Fadli.
Ia juga menepis tudingan keterlibatan Soeharto dalam sejumlah peristiwa kelam sejarah seperti G30S dan kerusuhan Mei 1998.
“Dugaan itu tidak pernah terbukti. Semua sudah melalui proses hukum yang tuntas,” tegasnya.
Sementara itu, keluarga Cendana turut menyampaikan pandangan mereka. Putri sulung Soeharto, Siti Hardijanti Rukmana atau Tutut, mengatakan perbedaan pandangan di masyarakat merupakan hal yang wajar.
“Ada yang pro dan kontra itu biasa. Yang penting kita lihat perjuangan beliau dari muda hingga akhir hayatnya untuk bangsa dan negara,” ujarnya.
Baca Juga: 32 Tahun Setelah Gugur, Marsinah Ditetapkan Jadi Pahlawan Nasional
Tutut mengimbau agar masyarakat tetap menjaga persatuan di tengah perbedaan pandangan.
“Boleh tidak setuju, tapi jangan ekstrem. Mari kita jaga ketertiban dan kesatuan bangsa,” katanya.
Gelar Pahlawan Nasional untuk Soeharto ini sebelumnya telah diajukan sejak masa pemerintahan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY).
Artikel Terkait
Wacana Soeharto Jadi Pahlawan Muncul Lagi, Hasan Nasbi Ungkap Alasannya
Megawati Ungkap Soeharto Tolak Pemakaman Bung Karno di Kalibata
Soeharto Pahlawan Nasional? Jokowi Tak Melarang, Tapi Ingatkan Ada Proses Resmi
Wacana Soeharto Jadi Pahlawan Nasional Picu Pro Kontra, Ini Kata Pengamat
Kontroversi Soeharto Menjadi Pahlawan Tak Surutkan Dukungan, NasDem Pilih Lihat Sisi Positifnya
Gus Dur Diusulkan Jadi Pahlawan Nasional, Cak Imin Sebut Indonesia Berutang pada Demokrasi Beliau