Polemik Visa Atlet Israel, Indonesia Dapat 'Kartu Kuning' dari IOC, Raja Sapta Siap Terbang ke Swiss

photo author
Nugroho Christian, Pontianak Globe
- Sabtu, 25 Oktober 2025 | 18:41 WIB
Ketum KOI Raja Sapta Oktohari akan bertemu langsung dengan Komite Olimpiade Internasional menyusul sanksi yang diberikan ke Indonesia.  (Dok. Instagram/rajasaptaokto)
Ketum KOI Raja Sapta Oktohari akan bertemu langsung dengan Komite Olimpiade Internasional menyusul sanksi yang diberikan ke Indonesia. (Dok. Instagram/rajasaptaokto)

PONTIANAKGLOBE.COM, JAKARTA -- Ketua Umum Komite Olimpiade Indonesia (KOI/NOC Indonesia) Raja Sapta Oktohari memastikan akan melakukan pertemuan langsung dengan Komite Olimpiade Internasional (IOC) di Lausanne, Swiss, pada 28 Oktober 2025.

Pertemuan ini disebut penting untuk membahas konsekuensi diplomatik setelah penolakan visa bagi atlet Israel yang akan bertanding di Jakarta.

Baca Juga: Purbaya Klaim Ekonomi Mulai Bergeliat, Meski Rp200 Triliun Sudah Tak Tersisa di Bank Himbara

Raja Sapta menjelaskan bahwa pertemuan dengan IOC sebenarnya sudah lama dijadwalkan sebagai bagian dari komunikasi rutin antara KOI dan IOC. Namun, isu penolakan visa kini membuat agenda tersebut menjadi lebih krusial.

“Banyak hal yang akan didiskusikan bersama IOC, sekaligus membahas keputusan terkini IOC,” kata Raja Sapta dalam keterangan tertulis, Sabtu, (25/10/2025).

Ia mengakui keputusan pemerintah Indonesia untuk menolak visa atlet Israel berdampak pada hubungan dengan IOC. Karena itu, komunikasi langsung diperlukan agar IOC memahami konteks politik dan sosial di Indonesia secara utuh.

“Sampai saat ini IOC belum pernah menghubungi saya secara langsung. Jadi sebaiknya memang harus datang bertemu di kantor pusat IOC di Lausanne,” ujarnya.

Raja berharap dialog tatap muka ini bisa membuka ruang komunikasi yang konstruktif agar posisi Indonesia tetap selaras dengan prinsip-prinsip Olimpiade dan partisipasi Indonesia di ajang olahraga internasional tetap terjaga.

Sebelumnya, keputusan Indonesia menolak visa atlet Israel untuk Kejuaraan Dunia Senam Artistik 2025 di Jakarta memicu reaksi keras dunia internasional.

Baca Juga: BNPB Tebar Garam di Langit Semarang, Upaya Redam Banjir yang Tak Kunjung Surut

IOC menilai kebijakan itu melanggar semangat Olimpiade yang menekankan kesetaraan dan perdamaian melalui olahraga.

Dalam pernyataannya, Komite Eksekutif IOC menyebut keputusan Indonesia sebagai bentuk pembatasan yang merampas hak atlet untuk berkompetisi secara damai dan menghalangi Gerakan Olimpiade untuk menunjukkan kekuatan olahraga.***

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Nugroho Christian

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X