Ia menegaskan bahwa faktor penyebab bisa datang dari berbagai sisi, termasuk kebersihan alat masak, sanitasi air, dan distribusi bahan mentah.
“Penjelasan WHO ini kami sampaikan sebagai bentuk kewaspadaan, bukan untuk menyimpulkan penyebab tunggal,” tambahnya.
Baca Juga: 108 Warga Kalbar Ajukan Perlindungan ke LPSK, Mayoritas Korban Kekerasan Seksual Anak
Langkah cepat BGN mendatangkan koki profesional dinilai positif. Namun, sejumlah pihak menilai perbaikan sistem jangka panjang jauh lebih penting.
Diperlukan tata kelola yang lebih kuat, mulai dari pengawasan bahan baku, standardisasi dapur, hingga kontrol distribusi makanan di daerah.
“Selama bahan mentah dan sistem distribusinya belum sepenuhnya aman, risiko serupa akan tetap ada,” tutur Tjandra.
Ia pun menegaskan bahwa kasus keracunan tidak serta-merta mencerminkan kegagalan seluruh dapur SPPG, tetapi menjadi pengingat penting untuk memperkuat sistem dari hulu ke hilir.***
Artikel Terkait
Stella Christie Sebut MBG Bisa Bantu Anak Jago Matematika dan Bahasa Inggris, BGN Jelaskan Maksudnya
24 Siswa Keracunan Usai Santap Ikan Hiu, BGN Siap Evaluasi Menu MBG
BGN Perketat Menu MBG, Larang Makanan Kemasan Pabrik dan Gandeng UMKM Lokal
Blunder Menu MBG Gunakan UPF, DPR Cecar BGN soal Kebijakan Tak Konsisten
6 Pejabat Terancam Dicopot, BGN Dihantam Isu Panas Jual Beli Dapur MBG
Tak Lagi Asal Masak! Ribuan Chef Profesional Dilibatkan BGN Kawal Program Gizi Nasional