kalbar-kita

Retret Gelombang II Jadi Ajang Evaluasi Program Prioritas, Wamendagri: Sudah Ada Feedback dari Daerah

Senin, 23 Juni 2025 | 07:48 WIB
Wamendagri Bima Arya saat hadir di konsolidasi pembentukan Koperasi Desa Merah Putih di Aceh pada 23 Mei 2025. (Instagram @bimaaryasugiarto)

PONTIANAKGLOBE.COM, JAKARTA -- Retret kepala daerah gelombang II resmi dimulai pada Sabtu, 22 Juni 2025.

Kegiatan ini berlangsung selama lima hari hingga 26 Juni di Kampus Institut Pemerintahan Dalam Negeri (IPDN), Jatinangor, Kabupaten Sumedang, Jawa Barat.

Baca Juga: Curhat ke Boy William, Fuji Cerita Pernah Didekati Pria dengan Cara yang Bikin Terkesan

Sebanyak 86 kepala daerah mengikuti kegiatan ini dari total 93 yang dijadwalkan hadir.

Enam kepala daerah absen karena alasan kesehatan, sementara Gubernur Papua Pegunungan berhalangan hadir lantaran tengah berduka atas wafatnya sang ibu.

Wakil Menteri Dalam Negeri (Wamendagri) Bima Arya menyebut retret ini menjadi momentum penting untuk mengevaluasi pelaksanaan berbagai program prioritas pemerintah.

Baca Juga: Retret Gelombang II Diikuti Kepala dan Wakil Daerah, Wamendagri Jelaskan Perbedaan Skema

“Materi yang disampaikan sama dengan gelombang pertama di Akmil Magelang pada Februari lalu. Tapi kali ini konteksnya berbeda karena sejumlah program seperti MBG dan Kopdes sudah mulai berjalan,” ujar Bima dalam konferensi pers di Jakarta, Sabtu, 21 Juni 2025.

Menurutnya, retret kali ini juga menjadi ajang untuk menyerap masukan langsung dari para kepala daerah terkait pelaksanaan program di lapangan.

Baca Juga: Diwakili Yakup Hasibuan, Pihak Vidi Aldiano Buka Peluang Damai dengan Keenan Nasution soal 'Nuansa Bening'

“Momen ini dimanfaatkan untuk sama-sama mengevaluasi. Mungkin sekarang sudah ada feedback dari daerah, baik soal Kopdes, MBG, maupun program lainnya,” lanjut Bima.

Selain dialog dan diskusi, para kepala daerah akan mendapatkan materi terkait tugas pokok kepala daerah, program prioritas pemerintah, pemberantasan korupsi, serta wawasan kebangsaan. ***

Tags

Terkini