Menurutnya, kenaikan harga bahan bakar akibat praktik korupsi ini semakin menekan kondisi ekonomi para pedagang kecil.
Baca Juga: Erick Thohir: Meskipun Harga Minyak Naik, Pertamina Tetap Tak Naikkan Harga BBM
"Koruptor seenaknya saja membohongi kami, dampaknya nyata bagi kesejahteraan kami. Biaya bensin semakin mahal, sementara penghasilan kami tidak ikut naik," keluhnya.
Aji mengaku harus mengisi BBM kendaraannya hingga empat kali dalam seminggu karena mobilitasnya yang tinggi.
"Saya bisa menjangkau empat sampai lima kecamatan dalam sehari. Jika stok es krim kurang, saya harus bolak-balik untuk mengambil barang. Kalau saya masih bisa bertahan, tapi kendaraan saya tetap butuh BBM, dan itu tidak murah," tambahnya.
Mengadu Nasib di Tengah Geliat Korupsi
Aji juga menyoroti bagaimana kasus korupsi di Indonesia terus berulang dan menjadi momok bagi generasi muda.
"Mental koruptor ini sudah terbentuk sejak lama. Kita sebagai generasi muda harus belajar menanamkan mental yang jujur dan konsisten," katanya.
Ia menekankan pentingnya kerja keras agar kelak, ketika memiliki jabatan, seseorang tidak tergoda untuk mencari keuntungan dengan cara yang tidak halal.
"Kita harus konsisten bekerja giat agar bisa kaya dengan cara yang benar. Kalau nanti jadi pemimpin, jangan sampai doyan uang haram," pesannya.
Minimnya Lapangan Kerja Picu Praktik Korupsi?
Aji juga menilai bahwa kasus Pertamax oplos ini mencerminkan kondisi minimnya lapangan pekerjaan di Indonesia, yang mendorong banyak pihak mencari keuntungan instan.
"Intinya, ini adalah efek dari minimnya lapangan kerja. Banyak orang mencari cuan dengan cara instan," tuturnya.
Ia menyoroti bahwa praktik mencari keuntungan secara tidak sah bukan hanya terjadi di tingkat elite, tetapi juga sering ditemukan dalam kehidupan sehari-hari.
"Korupsi itu tanpa disadari berdampingan dengan aktivitas masyarakat sehari-hari. Kalau mereka yang di atas saja berani korupsi dengan nilai fantastis, bagaimana dengan yang kecil-kecil?" pungkasnya. ***