“Baru kali ini saya menemukan The Power of Mama dan yang mengejutkan yang dihadapi bukan sembarangan, kalau sama api saja berani apalagi sama yang lain. Di sinilah kita mesti belajar ke Ketapang, di manakalau di tempat lain banyak orang membakar hutan, justru di Ketapang ini semuanya bersiaga untuk menghadapi kebakaran itu,” kata Moeldoko.
Moeldoko menambahkan, “Saya sungguh menaruh rasa hormat kepada ibu-ibu sekalian yang saat ini berdiri paling depan dalam menghadapi kebakaran. Ibu-ibu harus paham bahwa satuan kebakaran kalau di luar negeri itu grade-nya nomor dua dalam melindungi bangsa dan negara. Yang pertama tentara, yang kedua itu satuan kebakaran. Grade kedua yang ditempatkan di tempat yang terhormat dan luar biasa ialah para pemadam kebakaran.”
Dari hasil kunjungan ini, Dr. Moeldoko terkesan akan pendekatan holistik YIARI yang berhasil menempatkan diri sebagai lembaga konservasi mitra pemerintah yang berhasil bermitra dengan semua pihak dan memunculkan program-program pendampingan masyarakat, beasiswa bagi para anak yang hidup di desa-desa penyangga taman nasional, peningkatan literasi konservasi bagi anak-anak, peningkatan UMKM yang ramah lingkungan, hingga pendampingan bagi para perempuan untuk lebih terlibat dalam kesetaraan peran dalam menjaga alam dan lingkungan.
Dr Moeldoko bahkan mendorong keterlibatan YIARI untuk membantu program-program pemerintah terutama untuk menyelaraskan antara pembangunan kota-kota masa depan yang berwawasan lingkungan.
“Pemerintah telah memiliki program menuju zero emission, yaitu tidak ada lagi polutan-polutan dan polusi yang berkembang di dunia. Indonesia mengikuti protokol Paris, komitmen presiden sangat jelas, kita menuju ke sana agar kelangsungan hidup anak cucu kita ke depan semakin baik,” ujar Moeldoko.
“Kita sekarang menghadapi lingkungan yang luar biasa, untuk itu ada program dengan nama transisi energi yang merupakan salah satu tema besar yang dibicarakan ketika G20 kemarin dan diikuti lagi di pertemuan KTT ASEAN,” ujar Moledoko.
Moeldoko menambahkan, “Saya sangat kagum di tengah-tengah kota ini ada 200 hektar hutan yang terlindungi dengan baik dan terjaga dengan baik dan mohon ini nanti terjaga sampai selamanya. Karena dari hutan banyak yang kita dapatkan, salah satunya kelangsungan air. Air sudah menjadi isu global, krisis air sudah mulai di mana-mana, jadi ini harus terjaga dengan baik.”
Pihak YIARI yang diwakili oleh Bapak Marius Marcellus, menyampaikan rasa bangga dan terima kasihnya atas waktu yang disempatkan Dr. Moeldoko untuk menyapa masyarakat yang berkumpul di YIARI.
“Kunjungan Bapak Dr. Moeldoko ke YIARI, sungguh memberikan semangat dan afirmasi bagi pekerjaan kami selama ini. Sejak YIARI resmi berdiri pada tahun 2008, kami telah bergerak dari lembaga yang sebelumnya berfokus pada rehabilitasi satwa liar, kemudian menjadi lembaga konservasi yang holistik untuk bisa menciptakan kehidupan yang harmonis bagi seluruh warga bumi, tidak hanya untuk manusia, namun juga satwa,” ujarnya.
“Terutama di Ketapang, di mana keanekaragaman hayati masih tinggi, kami terus berjuang bersama masyarakat untuk bisa menjadi salah satu paru-paru bagi Indonesia. Kami siap mendukung pemerintah dalam setiap programnya, terutama dalam hal menjaga cakupan hutan dan isinya. Pesan dan harapan Dr. Moeldoko di kunjungan ini, akan kami sambut dan jalankan,” ujar Marius Marcellus, Dewan Pengurus YIARI. ***
Artikel Terkait
Kepala KSP Moeldoko Ungkap Perempuan Todong Paspampres Beraksi Sendiri
Satya Bumi Sebut Perpu Cipta Kerja Langgengkan Pasal yang Mengancam Lingkungan Hidup
Kabar Gembira, Satu Individu Orangutan Lahir di Taman Nasional Bukit Baka Bukit Raya Kalimantan Barat
Contoh Kata-kata Sambutan Ketua RT Saat Rapat Rutin di Lingkungan
Istri Moeldoko Meninggal, Sempat Mendapatkan Perawatan di Singapura
Kejaksaan Negeri Tahan Mantan Kadis Lingkungan Hidup Pontianak