Dalam menghadapi berbagai ancaman tersebut, diingatkan Putut Prabantoro bahwa Indonesia juga harus mewaspadai kelemahan-kelemahan mental bangsa Indonesia sebagaimana yang pernah diungkapkan Guru Besar Antropologi, Koentjaranngrat atau juga Mochtar Lubis dalam tulisannya tentang “Manusia Indonesia” terkait dengan kelemahan mental masyarakat Indonesia.
Kelemahan mental masyarakat Indonesia itu berdasarkan sejarah dibaca oleh penjajah terutama Belanda, yang kemudian menggunakan politik adu domba, atau devide et impera (memecah belah) untuk menguasai kerajaan-kerajaan nusantara.
Ditambahkan oleh Putut Prabantoro, mudahnya masyarakat Indonesia diadu domba juga terlihat dalam masa sekarang sekalipun telah merdeka 77 tahun lebih.
Berbagai peristiwa di Indonesia terkait dengan konflik horizontal di berbagai daerah dalam kurun waktu dua dekade ini telah menorehkan dan menambah luka dalam kehidupan bermasyarakat serta berbangsa.
Putut Prabantoro mendorong masyarakat Sulut untuk membaca buku tentang antropolog Belanda.
"Anda harus membaca sepak terjangnya Christian Snouck Hurgronje, antropolog dari Belanda, yang digunakan penjajah Belanda untuk mengalahkan Aceh dan kerajaan-kerajaan lain di Indonesia. Hasil penelitian Snouck Hurgronje itulah yang kemudian digunakan untuk membuat strategi penaklukan Aceh, antara lain. Bahkan Hurgronje menghalalkan berbagai cara untuk mempelajari kelemahan bangsa Indonesia,” ungkap Putut Prabantoro.
Sila ketiga yakni Persatuan Indonesia, masih menurut Putut Prabantoro, merupakan pusat kekuatan Pancasila.
Oleh karena itu, konflik horizontal di antara masyarakat dimunculkan untuk melemahkan ikatan persatuan Indonesia. Dan, konflik horisontal sangat mudah disulut, karena kelemahan mental bangsa Indonesia yang mudah diadu domba.
“Oleh karena itu, saya mendorong ormas-ormas di Sulut untuk berkampanye damai di tahun politik ini Dengan menggunakan media sosial, kampanye tersebut harus berdampak secara positip dan signifikan bagi masyarakat di derah lain,“ tegas Putut Prabantoro.
Sementara Ferry Sangian menngungkapkan bahwa upaya pencegahan radikalisme ini tidak cukup hanya dengan deklarasi dan cukup merasa aman dengan keadaan saat ini.
Alasannya adalah, gerakan untuk menggoyahkan Ideologi Bangsa Indonesia dilakukan dengan berbagai cara. Salah satunya adalah masuk melalui mempengaruhi sistematika kehidupan antara lain di sekolah-sekolah, kampus, dan tempat ibadah.
Hal itu dibenarkan oleh Prayogo Hari Cahyono, Dikatakannya, Kemendagri telah melakukan pemberdayaan ormas antara lain melalui sosialisasi dan pendidikan politik.
Dengan begitu, diharapkan persentase pemilih cerdas terus meningkat.
Ditekankan bahwa, ormas harus berperan aktif dalam pelaksanaan Pemilu dan Pilkada Serentak 2024 antara lain dengan cara membantu menyiapkan kader dan kelompok masyarakat agar dapat berpartisipasi aktif dalam pelaksanaan pemilu yang akan datang, mewujudkan pola interaksi yang sehat dan lebih luas, antara penyelenggara pemilu, peserta pemilu, dan masyarakat,
Artikel Terkait
Bersama STKIP Melawi IKIP PGRI Pontianak Adakan FGD Penguatan Profil Pelajar Pancasila dalam kurikulum Merdeka
Waasops Panglima TNI Pimpin Pertemuan Bilateral United States-Indonesia Dalam Rangka Diskusi Pertahanan
PLN Gandeng TNI Petakan Strategi Wilayah Untuk Kejar Target Desa Berlistrik di Seluruh Pelosok Negeri
Jangan Ragukan Sinergitas TNI-Polri Jaga NKRI! Kapolri dan Panglima TNI Disematkan Baret Merah Kopassus