PONTANAKGLOBE.COM, PONTIANAK -- Sebuah studi terbaru yang dipublikasikan dalam The Journal of Pain mengungkap bahwa hampir separuh dari pengguna kratom (Mitragyna speciosa) di Amerika Serikat menggunakannya untuk mengelola nyeri kronis.
Penelitian ini menggabungkan data survei lintas waktu dan penilaian ekologis sesaat (ecological momentary assessment/EMA) selama 15 hari terhadap ratusan responden dari berbagai wilayah di AS.
Baca Juga: Gusti Irwan Wibowo ‘Gustiwiw’ Meninggal Dunia, Sempat Jatuh di Kamar Mandi
Hasilnya menunjukkan bahwa 49,1% partisipan memenuhi kriteria nyeri kronis, dan mayoritas melaporkan bahwa kratom efektif dalam meredakan nyeri yang mereka alami.
Bahkan, pereda nyeri menjadi alasan utama penggunaan kratom secara harian.
Lebih dari dua pertiga (69,2%) responden mengaku kesulitan mendapatkan perawatan nyeri yang memadai, yang pada akhirnya mendorong mereka untuk mencoba kratom sebagai alternatif.
Kendati demikian, sebagian besar tidak melaporkan kekhawatiran terkait efek samping serius maupun potensi penyalahgunaan.
Baca Juga: Syifa Hadju Bawa Air Siraman Al Ghazali, Ini Reaksi El Rumi dan Maia Estianty
Analisis EMA juga menemukan bahwa penggunaan kratom baru-baru ini berkaitan dengan penurunan tingkat nyeri yang dirasakan saat itu.
Efek pereda nyeri tersebut bahkan lebih kuat dirasakan oleh mereka yang mengalami nyeri kronis.
Sementara itu, tidak ditemukan hubungan signifikan antara frekuensi penggunaan kratom harian dengan tingkat nyeri yang dialami, baik pada pengguna dengan nyeri kronis maupun tanpa.
Peneliti utama, Dr. Kirsten E. Smith dari Johns Hopkins University, menegaskan pentingnya riset lebih lanjut mengenai keamanan, efektivitas, dan mekanisme kerja kratom dalam pengelolaan nyeri.
Temuan ini dianggap penting untuk membantu perumusan kebijakan kesehatan dan regulasi kratom di masa depan. ***