Philip Smyth, seorang pakar yang mempelajari milisi Syiah yang didukung Iran, mengatakan, “Nasrallah mulai menyesuaikan posisinya di berbagai dewan berbeda di Hizbullah. Beberapa di antaranya lebih buram dibandingkan yang lain. Mereka menyuruh dia untuk datang, keluar, dan berbicara.”
Baca Juga: Catat, 10 Startup yang Dulu Populer, Kini Gulung Tikar
Ikatan keluarga Safieddine, kemiripan fisiknya dengan Nasrallah, serta statusnya sebagai keturunan Nabi Muhammad, dapat memberikan keuntungan baginya dalam posisi kepemimpinan.
Ia juga vokal dalam kritik terhadap kebijakan AS.
Menanggapi tekanan dari Amerika terhadap Hizbullah, ia menyatakan pada tahun 2017, “Pemerintahan AS yang gila dan terhambat secara mental yang dipimpin oleh Trump tidak akan mampu merusak perlawanan,” menegaskan bahwa tindakan semacam itu hanya akan memperkuat tekad Hizbullah. ***