Pedagang Kopi di Karawang Turut Kecewa dengan Dugaan Pertamax Oplosan, Itu Tidak Kreatif!

photo author
Steve Vantax, Pontianak Globe
- Kamis, 27 Februari 2025 | 16:21 WIB
Potret Potret Dirut Pertamina sekaligus tersangka kasus dugaan korupsi minyak mentah, Riva Siahaan (kiri), dan pedagang kopi di kedai Ulah Coffee di Cilamaya Wetan, Karawang, Tre Ikhwan (kanan).  (Dok. Pertamina Patra Niaga - Facebook.com/@h.t.ikhwan)
Potret Potret Dirut Pertamina sekaligus tersangka kasus dugaan korupsi minyak mentah, Riva Siahaan (kiri), dan pedagang kopi di kedai Ulah Coffee di Cilamaya Wetan, Karawang, Tre Ikhwan (kanan). (Dok. Pertamina Patra Niaga - Facebook.com/@h.t.ikhwan)

PONTIANAKGLOBE.COM, KARAWANG -- Direktur Utama PT Pertamina Patra Niaga, Riva Siahaan, resmi ditetapkan sebagai tersangka dalam kasus dugaan korupsi tata kelola minyak mentah dan produksi kilang PT Pertamina Subholding serta Kontraktor Kontrak Kerja Sama (KKKS) periode 2018–2023.

Riva menjadi salah satu dari tujuh tersangka yang ditetapkan Kejaksaan Agung pada Selasa, 25 Februari 2025.

Baca Juga: Ini Dia HP dengan Kamera Terbaik 2025, 3 Pilihan dengan Kualitas DSLR, RAM 12GB+, dan Baterai 5000mAh

Menurut Direktur Penyidikan Jampidsus Kejagung, Abdul Qohar, skandal ini berkaitan dengan kewajiban Pertamina dalam mengutamakan pasokan minyak bumi dari dalam negeri sebelum melakukan impor.

"Hal itu diatur dalam Pasal 2 dan Pasal 3 Peraturan Menteri ESDM Nomor 42 Tahun 2018 tentang prioritas pemanfaatan minyak bumi untuk kebutuhan dalam negeri," ujar Qohar dalam konferensi pers di Jakarta.

Dugaan Penyelewengan Spesifikasi BBM

Qohar menjelaskan bahwa Riva diduga melakukan pembelian minyak dengan spesifikasi yang lebih rendah dari yang seharusnya.

"Dalam pengadaan produk kilang oleh PT Pertamina Patra Niaga, tersangka RS membeli Ron 92 (Pertamax). Padahal, yang sebenarnya dibeli adalah Ron 90 (Pertalite) atau lebih rendah, kemudian dilakukan blending di storage/depo agar tampak seperti Ron 92," ungkapnya.

Praktik ini dianggap sebagai bentuk penyelewengan karena bahan bakar dengan kualitas lebih rendah dijual dengan harga lebih tinggi, yang berpotensi merugikan masyarakat luas.

Kasus ini memicu kekecewaan banyak pihak, termasuk para pengguna BBM yang sehari-hari bergantung pada kendaraan untuk bekerja.

Baca Juga: Rekomendasi 4 Tablet Honor Terbaik 2025, Layar Tajam, Performa Kencang! Ini Alasan Mengapa Pelajar Juga Cocok Memilikinya

Salah satunya adalah Tre Ikhwan (42), seorang pedagang kopi di kedai Ulah Coffee, Kecamatan Cilamaya Wetan, Karawang.

Tre mengaku sering mengantre panjang di SPBU untuk mendapatkan BBM bersubsidi.

Namun, mendengar dugaan oplosan Pertamax, ia merasa kecewa dan mempertanyakan kejujuran penyedia bahan bakar.

"Kalau memang isinya sama saja, buat apa saya harus antre panjang? Kenapa tidak sekalian saya isi Pertamax saja?" ujar Tre dengan nada kesal.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Editor: Steve Vantax

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X