Yoon bahkan terpaksa memveto beberapa RUU yang disahkan oposisi.
Baca Juga: Sosok yang Tertawa Lebar Saat Gus Miftah Hina Penjual Es Teh Akhirnya Minta Maaf, Siapa Dia?
Peringkat persetujuan terhadapnya juga merosot tajam, hanya mencapai 17 persen, terendah dalam sejarah kepresidenan Korsel.
Penurunan popularitas Yoon diperparah oleh sejumlah skandal, termasuk tuduhan manipulasi saham dan gratifikasi berupa tas Dior yang diterima Ibu Negara.
3. Pengunduran Diri Massal Pejabat Pemerintah
Krisis politik ini memicu gelombang pengunduran diri di jajaran pemerintahan.
Beberapa pejabat tinggi yang mengundurkan diri termasuk:
- Chung Jin Suk, Kepala Staf Kepresidenan
- Shin Won Sik, Penasihat Keamanan Nasional
- Sung Tae Yoon, Kepala Staf Kebijakan
Menteri Pertahanan Korsel, Kim Yong Hyun, juga mundur dan menyampaikan penyesalannya atas kekacauan yang terjadi.
"Saya sangat menyesal dan bertanggung jawab penuh atas kebingungan serta kekhawatiran publik," ungkapnya dalam pernyataan resmi pada Sabtu, 7 Desember 2024.
Kasus darurat militer di Korea Selatan menjadi titik kritis dalam pemerintahan Yoon Suk Yeol.
Dunia internasional memantau dengan saksama perkembangan politik di Korsel, terutama terkait potensi pemakzulan Presiden Yoon. ***
Artikel Terkait
Paus Fransiskus Sambut Hangat 60 Tahun Diplomasi Vatikan-Korea Selatan: Harapan untuk Perdamaian dan Kesaksian Pemuda
Aktor Korea Selatan Lee Sun-kyun Meninggal Dunia di Usia 48 Tahun
Korea Selatan Siap Meresmikan Unit Investigasi Crypto untuk Melawan Lonjakan Kejahatan
Korea Selatan Bertekad Membuat Unit Investigasi Kejahatan Crypto Menjadi Permanen
Rony Agustinus, Pelatih Indonesia yang Bawa Bulutangkis Korea Selatan Bersinar
Han Kang, Novelis Korea Selatan, Raih Nobel Sastra 2024, Menjadi Wanita Asia Pertama Raih Nobel