PONTIANAKGLOBE.COM, YOGYAKARTA -- Simposium Beda Setara (BEST) yang diinisiasi oleh Jaringan GUSDURian resmi dimulai di Convention Hall UIN Sunan Kalijaga, Yogyakarta.
Pembukaan acara ini ditandai dengan alunan angklung yang dimainkan oleh Direktur Jaringan GUSDURian Alissa Wahid, Direktur Pendidikan Tinggi Islam Kementerian Agama Ahmad Zainul Hamdi, Rektor UIN Sunan Kalijaga Noorhaidi Hasan, Koordinator Seknas Jaringan GUSDURian Jay Akhmad, Kepala Bidang HDI KUB Kanwil Kemenag DIY Nur Ahmad Ghozali, Ketua PWNU DIY KH Ahmad Zuhdi Muhdlor, serta sejumlah tokoh agama dan kepercayaan lainnya.
Baca Juga: Prabowo Raih Dukungan AS dan Tiongkok untuk Program Makan Bergizi Gratis
Koordinator Sekretariat Nasional Jaringan GUSDURian, Jay Akhmad, menyampaikan bahwa simposium ini bertujuan memperjuangkan Kebebasan Beragama dan Berkeyakinan (KBB) sebagai hak konstitusional yang wajib dilindungi, lebih dari sekadar upaya harmonisasi.
Simposium ini menghadirkan berbagai tokoh agama, praktisi KBB, dan civitas akademika untuk merumuskan strategi baru serta rekomendasi bagi penguatan gerakan KBB di Indonesia.
“Kami meyakini bahwa isu KBB harus terus dikampanyekan dan menjadi pembicaraan luas,” ungkapnya.
Baca Juga: Bertemu Biden, Prabowo Dapat Dukungan AS untuk Program Makan Bergizi Gratis
Diharapkan, acara ini menjadi wadah untuk memperdalam, memperluas, dan memperkuat jaringan gerakan KBB di berbagai tingkatan.
"Ada tiga fokus: memperdalam di level basis, memperluas jaringan, dan memperkuat di level kebijakan,” jelas Jay.
Rektor UIN Sunan Kalijaga, Noorhaidi Hasan, menyambut hangat semangat “Beda Setara” yang menjadi prinsip utama Jaringan GUSDURian, dan mengaku bahwa nilai ini sudah selaras dengan visi UIN Sunan Kalijaga.
“Begitu gagasan acara ini disampaikan, saya langsung mendukung 100 persen, karena ‘Beda Setara’ sudah menjadi DNA dari UIN Sunan Kalijaga,” paparnya.
Alissa Wahid, Direktur Jaringan GUSDURian, menekankan pentingnya mengangkat isu KBB ke ranah publik.
Baca Juga: Prabowo dan Joe Biden Sepakat Tingkatkan Latihan Super Garuda Shield dan Keamanan Maritim
Menurutnya, gagasan Bhinneka Tunggal Ika belum sepenuhnya tercermin dalam pemenuhan hak beragama bagi seluruh warga negara.
“Kita sering membanggakan slogan Bhinneka Tunggal Ika, namun kenyataannya pemenuhan hak beragama masih belum merata. Dengan simposium ini, diharapkan strategi untuk mewujudkan hak beragama yang setara semakin jelas,” tegas Alissa.
Artikel Terkait
Menyoal Perpres Media Berkelanjutan, SMSI Minta Kebebasan Pers dan Keadilan Bisnis Tak Dikorbankan
Jaringan GUSDURian Mengecam Aksi Teror Ormas terhadap Pelaksanaan People’s Water Forum di Bali
RUU Penyiaran vs Kebebasan Pers: Dewan Pers Desak Perhatian Global di Rapat UNESCO di Kroasia
Krisis Kebebasan Pers, AJI Jember Respons Intimidasi terhadap Jurnalis di Mapolres
Kisah Yaakov Baruch, Rabi Indonesia yang Tumbuh di Keluarga Multikultural
Menguak Identitas Yahudi di Indonesia, Begini Kisah Rabi Yaakov Baruch dan Sinagoga Shaar Hashamayim