Di Turki, di bawah kepemimpinan Erdogan, yang dianggap menggeser sekulerisme Turki yang diajarkan oleh Mustafa Kemal Ataturk, aturan ketat seperti larangan minuman keras memicu beberapa kelompok untuk meninggalkan agama.
Baca Juga: Haaland Hattrick! Man City Bantai Chelsea 4-2 di Pramusim
Tamer Fouad, koresponden hubungan internasional Guardian, menambahkan bahwa meningkatnya ateisme juga disebabkan oleh pandangan negatif terhadap agama akibat pemberitaan buruk tentang kekerasan atas nama agama dan kegagalan kepemimpinan partai dan tokoh Islam pasca-Arab Spring.
Arab Spring yang seharusnya membawa demokratisasi dan perbaikan ekonomi justru gagal di banyak negara, membuat rakyat kecewa dan menjauh dari agama.
Baca Juga: Bangunan di Dekat Jembatan Duplikasi Kapuas 1 Pontianak Roboh Timpa 3 Pekerja, Begini Kronologisnya
Namun, Brian Whitaker di Al-bab menyebut bahwa menjadi ateis di negara Arab sangat berbahaya karena bisa mengakibatkan dikucilkan oleh keluarga, teman, dan lingkungan, bahkan bisa dihukum mati oleh negara.
Oleh karena itu, banyak yang memilih untuk menyembunyikan status mereka.***
Artikel Terkait
Hardiknas Tokoh Lintas Agama Kumpul di Makam Ki Hajar Dewantara Luncurkan Pendidikan Cinta Tanah Air Indonesia
Kementerian Agama Pastikan Asrama Haji Indramayu Siap Layani 8.968 Jemaah
Elia TikTok Akui Dirinya Laki-laki, Hobi Bahas Agama Kerap Dituduh Perempuan, Ditegaskan Apologet Itu di Podcast dr Richard Lee
Gus Yaqut, Fachrul Razi, dan Pembubaran FPI: Begini Respons Kementerian Agama
Menteri Agama Yaqut Cholil Qoumas Berharap Perayaan Natal 2023 Memberi Kesan Mendalam
Hadiri Perayaan Imlek Kadin, Prabowo: Saya akan Melindungi Keragaman Agama dan Etnis