Namun, meskipun beberapa faktor mendukung pemeliharaan suku bunga tersebut, seperti mendekatnya inflasi ke level rata-rata jangka panjang, kenaikan suku bunga kemungkinan tidak akan mampu mengubah sentimen terhadap Ringgit.
Namun, ini mungkin akan menambah hambatan pertumbuhan sebagai akibat dari kebijakan fiskal yang lebih ketat di Malaysia dan permintaan global yang melemah.
Baca Juga: Duel Seru Manchester United vs Newcastle United Tersaji di Carabao Cup 2023/2024, 1-2 November 2023
Namun, mengingat Ringgit yang hampir mencapai titik terendah dalam sejarahnya, kenaikan suku bunga tidak dapat diabaikan, menurut Tamara Henderson, seorang ekonom Asia Tenggara di Bloomberg Economics.
Menurut United Overseas Bank, kenaikan suku bunga sebesar 25 basis poin mungkin tidak cukup untuk mengatasi kesenjangan suku bunga dengan Amerika Serikat dan untuk meningkatkan kepercayaan terhadap Ringgit.
Baca Juga: Mengenal Peringatan Misa Arwah 2 November Bagi Umat Katolik Seluruh Dunia
Saat ini, perbedaan kebijakan suku bunga antara Malaysia dan Amerika Serikat sekitar 250 basis poin.
Di sisi lain, BNM telah menjaga ketat likuiditas dengan menjual surat utang demi mendukung nilai Ringgit, dan suku bunga antar bank di Malaysia telah mencapai level tertinggi sejak Februari.
Gubernur BNM, Abdul Rasheed Ghaffour, menyatakan komitmennya untuk memastikan penyesuaian Ringgit berlangsung dengan teratur dan untuk mendukung kelancaran bisnis. ***
Artikel Terkait
Harga CPO Periode 1-15 Mei 2023 Naik Dampak Libur Idul Fitri di Malaysia dan Indonesia
Malaysia dan Kalbar Ingin Pemerintah Indonesia Buka Rute Penerbangan Langsung Kuching-Pontianak
Warga Penang Malaysia Borong Botol Mineral Imbas Debit Air di Bendungan Menipis
Gubernur Sutarmidji Ajak Komunitas Pengusaha Tionghoa Serawak Malaysia Berinvestasi di Kalbar
Presiden Jokowi dan Ibu Iriana Lakukan Kunjungan Kerja ke Singapura dan Malaysia
Menhan RI Prabowo Sambut Kedatangan Presiden Jokowi Kunker di Malaysia
Stand Up Comedy Singapura Jocelyn Chia Dirujak Netizen Malaysia, Waduh