Tiga Pesawat Pribadi dari Malaysia Mendarat ke Yogyakarta, Rombongan Kerajaan Malaysia Bertamu ke Paku Alam

photo author
Steve Vantax, Pontianak Globe
- Senin, 16 Oktober 2023 | 23:04 WIB
 rombongan Kerajaan Malaysia bersama tuan rumah menuju sisi barat Bangsal Sewatama. Disitu mereka disuguhi display 11 batik yang dibuat secara khusus oleh GKBRAA Paku Alam. (Dok. POntianak Globe)
rombongan Kerajaan Malaysia bersama tuan rumah menuju sisi barat Bangsal Sewatama. Disitu mereka disuguhi display 11 batik yang dibuat secara khusus oleh GKBRAA Paku Alam. (Dok. POntianak Globe)

Ternyata Permasuri Kerajaan Malaysia juga bisa membatik juga.

Dalam penjelasannya, Tunku Azizah Aminah Maimunah Iskandariah dirinya bisa membatik. Tetapi ternyata membatiknya dengan cara yang berbeda.

Karena kecintaannya akan batik juga, Tunku Azizah juga memiliki sekolah membatik.

Hanya diakui, seni batik di Malaysia masih kalah jauh dari batik Yogyakarta.

Menurut Gusti Putri Paku Alam X, Raja Permaisuri Agong Malaysia sangat terkesan dengan tarian-tarian yang disajikan Kadipaten Paku Alaman.

Memang beda tariannya. Sehingga tidak mengherankan jika Raja Permaisuri Agong Malaysia itu sangat senang dengan tarian klasik yang disajikan.

Kepada Raja Permaisuri Agong Malaysia dijelaskan mengenai batik-batik yang ditampilkan dalam gala diner tersebut.

Batik seri Asthabrata yang ditampilkan yaitu Indra Widagda, Surya Mulyarja, Wisnu Mamuja, Candra Kinasih, Brama Sembada, Yama Linapsuh, Bayu Krastala, Baruna Wicaksana dan Asthabrata Jangkep.

Karya batik seri Asthabrata dari Kadipaten Pakualaman ini adalah batik yang memiliki filosofi tentang kepemimpinan yang terinspirasi dari manuskrip atau naskah kuno Setradisubul dan Setra Ageng Adidarma koleksi Perpustakaan Widyapustaka Pura Pakualaman.

"Kita harus melestarikan budaya Indonesia termasuk budaya-budaya klasik yang pernah muncul dalam lingkungan kraton yang ada di Nusantara. Ini merupakan kekayaan yang perlu dilestarikan. Ketidaktahuan kita tentang budaya akan menjadi malapetaka ketika sebuah negara mengklaim sebagai budaya miliknya dan dipatenkan. Kita akan menyesal setelahnya. Perlu upaya tidak kenal lelah bagi bangsa Indonesia dan kerja sama lintas tradisi atau budaya untuk mendatanya, Setelah didata perlu dirawat dan dipelihara,” ujar Gusti Putri Paku Alam X.

Menurut Isteri dari Wakil Gubernur DIY itu, dalam perjalanan sejarah nusantara menjadi Indonesia tentu terjadi banyak pertemuan budaya yang saling menerima dan saling memengaruhi.

Dan itu semua merupakan kekayaan yang tidak dimiliki negara atau bangsa lain. ***

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Editor: Steve Vantax

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X