Para siswa itu ditantang mencari cara bagaimana menggerakkan kaleng tanpa
menyentuh langsung dengan tangan, tetapi dengan menggunakan barang-barang yang telah
disediakan.
Di atas meja eksperimen, terdapat balon yang merupakan kunci dari tantangan
tersebut.
Para siswa harus meniup balon dan kemudian menggesekkan ke rambut untuk menghasilkan listrik statis akibat adanya perpindahan elektron. Balon yang telah digesek itu mampu menggerakkan kaleng jika didekatkan.
Kesempatan yang Setara di Dunia Sains
Tema Kesempatan yang Setara di Dunia Sains dimaknai sebagai kondisi yang adil, yaitu
saat setiap orang di semua bidang STEM (sains, teknologi, perekayasaan, dan matematika)
diperlakukan sama tanpa diskriminasi, prasangka, ataupun sikap mengutamakan kelompok
tertentu.
Saat ini, representasi kelompok minoritas dan perempuan di dunia sains pun masih rendah -- hal ini menjadi tantangan bagi upaya menciptakan tenaga kerja internasional dalam jumlah yang memadai di bidang sains.
Kesempatan yang setara juga meliputi pengakuan terhadap keberagaman dan inklusi.
Keberagaman akan menghadirkan kekayaan talenta di bidang sains dan mendorong inklusi penuh untuk semua lapisan masyarakat.
Hasil-hasil besar di bidang STEM dapat dicapai melalui keberadaan tenaga kerja yang beragam dan inklusif; masing-masing membawa latar belakang, perspektif, dan pengalaman yang berbeda dan perbedaan inilah yang memaksimalkan inovasi dan kreativitas di bidang sains.
“Pandemi membuka mata banyak orang bahwa isu keberagaman dan inklusif kian penting.
Science Film Festival adalah wujud komitmen kami untuk mengangkat kedua isu ini,
menunjukkan bahwa bidang sains terbuka untuk dipelajari dan dapat menjadi lahan
pekerjaan bagi siapa saja demi kemajuan masyarakat. Kami berharap, melalui tema
tersebut, kami dapat membangun kesadaran generasi muda terhadap inklusi dan
keberagaman,” kata Dr. Stefan Dreyer, Direktur Regional Goethe-Institut untuk Asia
Tenggara, Australia, dan Selandia Baru saat konferensi pers dan pembukaan.
Festival tahun ini didukung oleh sejumlah mitra utama, yakni Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi; Kedutaan Besar Republik Federal Jerman; inisiatif
“Sekolah: Mitra menuju Masa Depan” (PASCH); Bildungskooperation Deutsch (BKD); RollsRoyce; SEAMEO STEM-ED; Universitas Paramadina; Universitas Katolik Indonesia Atma Jaya; dan Universitas Negeri Jakarta.
Direktur Jenderal Kebudayaan Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi
Hilmar Farid menambahkan bahwa tidak ada masyarakat yang inklusif tanpa pendidikan
yang inklusif.
“Semangat ini dapat diwujudkan salah satunya melalui kegiatan menonton film. Jalan kesenian seperti film dapat ditempuh untuk melatih generasi muda berempati dengan sesama dari latar belakang yang berbeda, sehingga mendorong mereka untuk berpikiran terbuka dan bersolidaritas dengan kaum yang terpinggirkan. Dari situ, jiwa inklusif bisa tumbuh dalam benak generasi muda Indonesia.“
Presiden Rolls-Royce untuk Asia Tenggara, Pasifik, dan Korea Selatan Dr. Bicky Bhangu menyatakan, “Rolls-Royce bangga menjadi mitra Science Film Festival di Asia Tenggara untuk membantu mempromosikan literasi sains di kalangan anak-anak dan remaja di kawasan ini.
Artikel Terkait
Seberapa Pentingkah Persiapan Pendidikan Anak? Ketahui Tips Merencanakan Dana Pendidikan Anak Berikut Ini
Google Beri 5.500 Beasiswa untuk Program Pengembangan Talenta Digital Kreatif dari Kemenparekraf
Berminat Dapat Beasiswa Unggulan 2022 di beasiswaunggulan.kemdikbud.go.id. Begini Cara Daftarnya...