edukasi

Sudah Tahu Sejarah Debus di Indonesia ? Ternyata Ada Sejak Kesultanan Banten Dipimpin Sultan Agung Tirtayasa

Jumat, 9 Desember 2022 | 21:19 WIB
Ilustrasi debus. (Pixabay/panjiarista)

Karena Debus sudah ada sejak abad ke 17 tentu saja Debus termasuk permainan rakyat yang berusia cukup tua.

Konon, kesenian yang disebut sebagai debus ini ada hubungannya dengan tarikat Rifaiah yang dibawa oleh Nurrudin Ar-Raniry ke Aceh pada abad ke-16.

Para pengikut tarikat ini ketika sedang dalam kondisi epiphany (kegembiraan yang tak terhingga karena "bertatap muka" dengan Tuhan) kerap menghantamkan berbagai benda tajam ke tubuh mereka.

Filosofi yang mereka gunakan adalah "laa haula walla Quwata ilabillahil 'aliyyil adhim" atau tiada daya upaya melainkan karena Allah semata.

Jadi, kalau Allah mengizinkan, maka pisau, golok, parang atau peluru sekalipun tidak akan melukai mereka.

Pada awalnya di Banten kesenian ini berfungsi untuk menyebarkan ajaran Islam.

Namun, pada masa penjajahan Belanda dan pada saat pemerintahan Sultan Agung Tirtayasa, seni ini digunakan untuk membangkitkan semangat pejuang dan rakyat Banten untuk melawan Belanda.

Dewasa ini, seiring dengan perkembangan zaman, kesenian ini hanya berfungsi sebagai sarana hiburan semata.

Permainan debus biasanya dilakukan di halaman rumah pada saat diadakannya acara-acara lain yang melibatkan banyak orang.

Peralatan yang digunakan dalam permainan adalah:

1. debus dengan godo-nya

2. golok yang digunakan untuk mengiris tubuh pemain debus;

3. pisau juga digunakan untuk mengiris tubuh pemain;

4. bola lampu yang akan dikunyah atau dimakan (sama seperti permainan kuda lumping di Jawa Tengah dan Timur;

5. panci yang digunakan untuk menggoreng telur di atas kepala pemain;

Halaman:

Tags

Terkini