edukasi

Fakta dan Fiksi tentang Kebudayaan

Senin, 5 Agustus 2024 | 17:25 WIB
H.Y. Suhendra. Dosen Filsafat dan Metodologi S2 & S3 SKSG Universitas Indonesia dan Unika Santo Agustinus Hippo, Kalbar.

Iklan melalui media (massa) informasi merupakan alat yang paling efektif untuk membentuk kebutuhan terhadap produk melalui penyebaran informasi mengenai sebuah produk. Melalui iklan di media masssa orang didorong untuk  mengkonsumsi produk yang diiklankan dan membentuk sebuah citra akan sebuah produk.

Dalam masyarakat yang dipengaruhi kapitalisme global, media (massa) informasi telah membentuk dan mencipta gaya hidup dengan memberi pendangan bahwa kepribadian, harga diri, dan kebahagiaan hanya dapat diperoleh melalui pembelian dan pemilikan sebuah barang komoditi. Makanan seperti mi instan sebenarnya adalah bagian dari strategi kerja normalisasi tubuh manusia.

Tubuh normal tak lain adalah sumber daya yang harus disiplin dan produktif menghasilkan sesuatu target tertentu bahkan dapat saja sampai membuat tubuh dan pikiran memang akan menerima kehidupan seperti tanpa mampu protes apapun.

Meskipun konsumen sadar akan apa yang menjadi keputusannya untuk mengkomsumsi mi instan meski mengandung bahan yang membahayakan tubuh tapi konsumen tidak mampu untuk berbuat lebih banyak.

Kenyataan ini membawa pemahaman lain, yaitu sesungguhnya menjadi begitu jelas sekali bahwa pola dan keinginan konsumsi bukan melulu di dasarkan pada nilai kegunaan semata. Berbagai nilai yang ada di luar nilai guna juga mempengaruhi keputusan mengkonsumsi (Nestor, 120, 2006). Dalam hal ini penggunan mi instan pun juga merujuk pada identitas dan status sosial tertentu yang di-imajinasi-kan konsumen.

Kelihatan modernitas telah menggeser pemaknaan orang akan makan dan makanan. Makanan ibarat bahan bakar untuk kendaraan karena memiliki nilai efisiensi (tidak memboroskan waktu). Yang terpenting bagi konsumen adalah makan sekedar mengisi perut supaya mereka tidak lapar dan dapat melanjutkan aktivitas berikutnya.

Didukung dengan daya magis iklan, mi instan tampaknya berhasil mengukuhkan diri sebagai makanan “peka zaman”.

Ingatan akan produk tersebut dibentuk melalui intensitas pesan mengenai siapa yang layak mengkonsumsi jenis makanan ini. Pemakaian sudut pandang atau bingkai keluarga sebagai latar iklan terhadap beragam merek mi instan di televisi, radio dan koran memelihara ingatan konsumen akan kebutuhan mi instan sebagai “bahan bakar” agar kendaraan dapat tetap berjalan.

Melalui mediasi iklan, ia bekerja dengan efektif untuk  mendekatkan dan mengakrabkan makanan asing dan global ini dalam rumah tangga konsumen lokal, serta bagaimana “nilai lebih” makanan ini ditampilkan demi memenuhi “keamanan” pangan.

Konsumsi dalam masyarakat ekonomi global adalah imajinasi tentang pernyataan selera individual. Industri konsumen modern seolah hanya membaca apa yang secara alami dan permanen terkandung dalam selera dan citra rasa individual.

Perkembangan dalam pengolahan pangan modern membawa ide mengenai keunggulan pangan modern. Keunggulan ini memperoleh tempat dengan gagasan keunggulan kompetitif.

Dengan cara berpikir ini—atau lebih tepatnya cara ber-imajinasi –penemuan metode pengolahan modern makanan instan mendapat kekuatannya. Makanan yang diolah dengan teknologi yang lebih tinggi memiliki nilai yang lebih dibandingkan dengan makanan yang secara teknologi diolah dengan lebih sederhana.

Dalam hal ini, dikotomi biner antara makan tradisional dan makanan modern membuat makanan modern mampu diterima dengan lebih luas. Dikotomi biner ini membuka peluang masuknya nilai lebih dari makanan modern, misalnya seperti: kemasan yang bagus dan aman, kecukupan nilai-nilai gizi yang lebih terjamin, kebersihan, termasuk juga kemampuan untuk di simpan dan tahan lebih lama.

Hampir seluruh mi instan yang beredar di pasaran selalu bergambar suatu sajian atau semacam tata saji semangkuk mi.

Pengetahuan kemasan untuk produk makanan bisa jadi kurang begitu dipahami oleh konsumen. Mereka tidak terlalu memperhatikan informasi penting yang muncul dalam kemasan. Yang penting adalah mi tidak perlu bergizi baik karena bukan makanan pokok, tapi mampu membuat kenyang dan menghemat waktu: ready to eat, ready to cook, half cooked, dan ready to serve.

Halaman:

Tags

Terkini