Fakta dan Fiksi tentang Kebudayaan

photo author
Jans Angkamor Bong, Pontianak Globe
- Senin, 5 Agustus 2024 | 17:25 WIB
H.Y. Suhendra. Dosen Filsafat dan Metodologi S2 & S3 SKSG Universitas Indonesia dan Unika Santo Agustinus Hippo, Kalbar.
H.Y. Suhendra. Dosen Filsafat dan Metodologi S2 & S3 SKSG Universitas Indonesia dan Unika Santo Agustinus Hippo, Kalbar.

Hal ini menegaskan bahwa perilaku konsumen terutama tidak semata ditentukan oleh pikiran-pikiran (Ideal-isme) mengenai kebutuhan akan barang itu sendiri melainkan juga penetrasi iklan dan promosi visual yang begitu massif masuk dalam ingatan konsumen. Akibatnya, nasi atau bukan nasi tidak lagi terpikirkan. Kepentingan utama untuk mengkonsumsi makanan modern ini adalah sejauh praktis, efisien dan kenyang (Real-isme).

Menurut teori “tingkat kebutuhan”, perilaku konsumen bukan lagi semata-mata unsur rasionalitas ekonomi ataupun irasionaltas psikologis, tapi konsumsi telah menjadi rekayasa politik, ekonomi, dan budaya yang membuat orang-orang merasa “wajib ingin sesuatu”.

Meskipun konsumsi ada dalam setiap gerak kebudayaan manusia, namun baru beberapa dekade terakhir “konsumsi” dalam skala massa muncul sebagai dasar kehidupan daripada sebagai gejala kehidupan. Di mana terdapat proses produksi subsisten, di situ dipastikan konsumsi subsisten: “Semua yang diproduksi pasti dikonsumsi”.

Maka, tak heran kompetisi antar-status golongan yang beroperasi atas dasar pola-pola konsumsi, seperti yang kata Weber, menjadi kelihatan lebih penting daripada perjuangan antar kelas menurut Marx, yang beroperasi atas dasar pola-pola produksi. Sebuah pola dasar yang ketika bergandengan dengan sistem industrilisasi global akan menghasilkan apa yang disebut kebudayaan massa (Smith, 2001) di mana masing-masing kelompok orang – siapapun dan di manapun – boleh dan dapat saling bertemu hanya di dalam pasar dan hal-hal lain yang terkait dengannya. Di sini “konsumsi” semakin mendapat tempat sebagai sebuah “society drive.”

Dalam wajah kebudayaan semacam ini maka segera saja setiap wilayah, setiap orang, dan setiap celah kebutuhan adalah pasar. Bahkan untuk jenis-jenis kebutuhan yang dahulu hanya menjadi ruang “lokal” karena masih aktualnya konsep “otensitas” atau “privasi” atau bahkan “tabu”.

Semangat-semangat itu mengabur dalam suatu ruang besar yang disebut “pasar”, digantikan dengan citra dan makna baru (signification) yang sangat cerdik disampaikan oleh media komunikasi massa(l).

Dalam media komunikasi massa(l) modern selalu saja ada yang “lebih” baru, bukan saja makna-makna tapi juga konstruksi identitas (Nestor, 122, 2016). Setiap orang terhubung dengan televisi murni sebagai individu yang terjarak dari ikatan-ikatan sosial aslinya.

Di depan televisi setiap individu adalah anggota-anggota anonim dari kumpulan besar penonton yang abstrak sekaligus universal.

Kolektivitas yang lebih luas di mana seseorang sedang berada, atau nilai-nilai yang sedang dihidupinya, cenderung diabaikan, terkikis dan menjadi kepingan-kepingan.

Baik konsumerisme maupun televisi bukan sumber asli bagi identitas maupun nilai-nilai tapi karena tidak alternatif lain, maka budaya pop dan media massa tampil sebagai satu-satunya bingkai yang tersedia bagi konstruksi identitas kolektif maupun personal.

H.Y. Suhendra. Dosen Filsafat dan Metodologi S2 & S3 SKSG Universitas Indonesia dan Unika Santo Agustinus Hippo, Kalbar.
H.Y. Suhendra. Dosen Filsafat dan Metodologi S2 & S3 SKSG Universitas Indonesia dan Unika Santo Agustinus Hippo, Kalbar.

Orang perlu menyimak panduan gaya hidup yang lebih pop dan karenanya lebih “pas”. Begitulah media komunikasi massa(l) modern bukan saja mengutip moto sebuah produk “membuat jarak kian tak berarti” namun juga mampu membentuk identitas tertentu dan mengarahkan sikap manusia global.

Dan bagaimana ketika ternyata arahan-arahan itu adalah demi dominasi ‘kepentingan tertentu’ dalam proses globalisasi di segala bidang yang langsung maupun tidak langsung dapat bermuara pada suatu struktur ekonomi dan kebudayaan yang tidak adil?

Mi instan sebagai produk budaya pop; sebagai komoditi massa(l) berciri dominan dan peka terhadap kepentingan sepihak yang mengalir bersama cerdiknya peran media massa(l) modern dalam mengaburkan atau menyamarkan perbedaan antara imajinasi dan kenyataan menjadi penting.

Apalagi kemampuan media komunikasi massa(l) untuk menawarkan makna-makna dan citra yang “selalu saja ada yang lebih baru”. Sangat mungkin fantasi tentang “lebih baru” itu juga menentukan dan dengan begitu “mengarahkan dalam persoalan selera dan cita rasa, termasuk makanan.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Jans Angkamor Bong

Tags

Rekomendasi

Terkini

X