PONTIANAKGLOBE.COM, Media Center San Agustin| Senin, 05 Agustus 2024- Keterkaitan globalisasi kebudayaan makan(an) mi instan dengan kecenderungan untuk massalisasi rasa produk secara global dapat dicermati dari paling tidak tiga industri mi instan yang memperkenalkan beragam rasa baru. Jelas ini bukan sebuah kebetulan.
Belasan rasa baru: Spagheti Salsa, Pizza Plus, Chicken Viesta, BBQ Burger dan Sausage Grill, Chicken Lemon, Pizza Favourite, Spagheti Tomato & Cheese; Roasted Beef Burger; BBQ Sausage; Burger, Pizza dan Chicken Nugget ini sangat jelas meningkatkan konsumen pada selera rasa makanan Barat yang lain.
Pengenalan selera rasa untuk mi instan seperti itu mudah diduga adalah karena memudahkan dan mendekatkan imajinasi konsumen dengan popularitas berbagai makanan cepat saji yang diimpor dari dunia Barat seperti tersedia di restoran-restoran: McDonald, Wendy’s, Burger King, Pizza Hut, dll.
Dalam hal ini, ABG adalah golongan yang mempunyai selera dan gaya hidup (peka zaman) yang mudah berubah-ubah. Mi instan adalah jenis makanan peka zaman.
Kisah lain tentang popularitas bakmi di Yogya dapat memberi contoh bagaimana nasi yang semula menjadi satu-satunya makanan pokok, tergusur oleh makanan mi instan akibat modernisasi dan urbanisasi gaya hidup konsumen.
Bukan sekedar kebetulan atau bahkan kesengajaan demi kepentingan promosi bisnis belaka kalau membaca kisah sukses seorang pengusaha restoran bakmi berikut ini. Bagi konsumen di kota Yogya, bakmi ternyata telah menjadi pesaing atau alternatif yang cukup memasyarakat terhadap kebiasaan makan nasi.
Semula memang ada mitos (Barthes, 1972), yang menyatakan bahwa “orang mudah merasa belum makan kalau belum menyantap nasi.”
Sesudah beberapa lama menekuni bisnis makanan, Bambang Benny Si, pemilik restoran “Mie Nusantara” di Yogya (Malioboro Mall) bercerita tentang langgananya sebagai berikut: Katanya, “Alhasil mereka pun ketagihan dan merasakan bahwa mi ternyata bisa membuat perut kenyang, dan enak” (KR, 21 Februari 2000).
Restoran ini terletak di sebuah mal dengan keuntungan yaitu mampu mendekatkan dagangan dengan konsumen.
Sehabis belanja di mal atau super market, misalnya, konsumen langsung menyantap mi dan tak perlu lagi memasak ketika tiba di rumah.
Sebuah strategi yang jeli ketika menyadari bahwa nasi cenderung bukan lagi satu-satunya makanan pokok dan merupakan keharusan bagi pola makan masyarakat Indonesia.
Begitu juga mi instan telah menggeser Jajan Pasar yang merupakan kebiasaan makan orang kebanyakan dan berfungsi sebagai makanan di luar makan besar; dalam arti tertentu dapat diartikan sebagai makanan sela di antara waktu makan.
Kehadiran mi instan ini pada gilirannya secara perlahan menggeser beberapa jenis makanan yang semula biasa tersaji di meja makan.
Tatanan budaya (cultural order) diwujudnyatakan dalam tatanan benda-benda (order of goods).