edukasi

Fakta dan Fiksi tentang Kebudayaan

Senin, 5 Agustus 2024 | 17:25 WIB
H.Y. Suhendra. Dosen Filsafat dan Metodologi S2 & S3 SKSG Universitas Indonesia dan Unika Santo Agustinus Hippo, Kalbar.

Produksi adalah reproduksi kebudayaan dalam sistem benda-benda (system of objects). Dengan kata lain, barang-barang yang dikonsumsi sebenarnya merupakan penanda (signifiers) dalam sistem kultural dan sosial, dan sistem ekonomi kemudian merespons kode tersebut dengan memproduksi signifiers lain lagi (Sahlins, 1976).

Dengan menambahkan sayuran, daging maupun bumbu lain dalam menyajikan mi instan, maka mi instan dapat dimasukkan dalam kategori jenis makanan “berat”, Artinya, jenis makanan yang fungsinya dapat menggantikan nasi sebagai makanan pokok.

Meskipun selama ini memang muncul mitos bahwa “jika belum makan nasi, terasa belum makan”, mi instan telah menggeser nasi sebagai makanan pokok. Seiring dengan perkembangan zaman dan pengaruh globalisasi yang membawa perubahan pada gaya hidup, tampaknya mitos tersebut mulai pudar.

Meningkatnya kemakmuran dan masuknya pengaruh gaya hidup barat melalui turisme dan bisnis telah mengubah selera dan perilaku konsumen (Nestor, 122, 2006).

Perilaku konsumen yang menganggap mi instan merupakan jenis makanan yang sifatnya mendadak tetapi “penambahan” gizi menjadi pertimbangan untuk menjadikan mi instan tidak lagi sekadar makanan biasa, tapi memiliki “citra” (Baudrillard) yang lebih baik sebagai makanan modern.

Dalam perbincangan tentang strategi lokalisasi produk global(isasi) seperti mi instan, sebuah politik ekonomi konsumsi global biasanya berstrategi memperhatikan kondisi tertentu dari kebudayaan lokal.

Misalnya, memproduksi mi instan dengan rasa yang sesuai dengan selera masyarakat setempat, dan dalam iklan-iklan promosi dagangnya memanfaatkan gambar, syair dan irama lagu dari seni budaya “nasional” yang sudah begitu akrab di mata dan telinga konsumen Indonesia.

Indomie beberapa kali mengeksploitasi beberapa bagian lagu nasional kebangsaan Indonesia lewat syair seperti “Dari Sabang sampai Merauke … dan seterusnya.” Yang dalam iklan televisi masih ditambahkan tayangan sebuah keluarga di mana si ayah adalah pilot pesawat terbang yang mempunyai pelanggan orang Arab dan orang asing lainnya.

Globalisasi sesungguhnya didukung dan dipacu oleh warisan pengetahuan dari zaman Pencerahan yang menggiatkan modernisasi dan industrilisasi dalam kehidupan di dunia ini.

H.Y. Suhendra. Dosen Filsafat dan Metodologi S2 & S3 SKSG Universitas Indonesia dan Unika Santo Agustinus Hippo, Kalbar.

Industrilisasi global makanan pop seperti mi instan itu menghasilkan beberapa kontradiksi, paradoks dan ironi dalam kehidupan. Batas-batas lokal (teritorial) dalam kehidupan ekonomi dan kebudayaan akhirnya menjadi semakin sulit untuk dipertahankan ketika harus berhadapan dengan suatu gaya hidup ekonomi dan kebudayaan global yang cenderung hanya menghargai segala sesuatu yang bersifat asal baru dan asal dapat terjangkau atau terbeli (Nestor, 122, 2006)

Kebutuhan akan suatu barang tidak lagi sederhana bahwa barang tersebut dipandang dari fungsi kegunaan semata, namun juga dipengaruhi oleh keinginan untuk mampu mengikuti zamannya. Penampilan yang elegan dan mengikuti perkembangan zaman dapat menjadi kunci penerimaan makanan secara global.

Di dalam masyarakat kapitalisme global, sedikitnya terdapat tiga bentuk “kekuasaan” yang beroperasi di belakang produksi dan konsumsi sebuah produk, yaitu kekuasaan kapital, kekuasaan produsen, serta kekuasaan media.

Ketiga bentuk kekuasaan tersebut pada berbagai praktik sosial telah menentukan bentuk dan gaya, produksi dan konsumsinya. Dalam hal ini sebuah produk dapat menentukan status, prestise dan simbol-simbol sosial tertentu untuk para pemakainya (Bourdieu, 1979).

Bertitik tolak dari identitas dan kecenderungan gaya hidup tersebut—maka sikap atau perilaku dalam mengkonsumsi mi instan dapat dilihat melalui kemasan mi instan. Kemasan mi instan selalu berusaha membentuk citra dan mencobakan produknya bagi konsumen.

Halaman:

Tags

Terkini