daily-vibes

Setahun Berlalu, Br Stephanus Paiman Kenang Investigasi Dugaan Kriminalisasi Warga Desa Inggis

Selasa, 11 Agustus 2026 | 18:34 WIB
Setahun berlalu, namun kenangan perjalanan investigasi ke Desa Inggis, Kecamatan Mukok, Kabupaten Sanggau masih membekas. Menyusuri Sungai Kapuas, bertemu warga, mendengar langsung cerita mereka, hingga melihat kondisi di lapangan dilakukan Br Stephanus Paiman OFM Cap. (Dok. FRKP)

PONTIANAKGLOBE.COM, SANGGAU -- Ketua Forum Relawan Kemanusiaan Pontianak (FRKP)  Br Stephanus Paiman OFM Cap kembali mengenang peristiwa investigasi yang dilakukannya ke Desa Inggis, Kecamatan Mukok, Kabupaten Sanggau, sekitar setahun lalu.

Kenangan itu muncul setelah seorang warga Desa Inggis mengirimkan kembali foto-foto dan dokumentasi saat kunjungannya ke desa tersebut.

Baca Juga: Seskab Teddy Indra Wijaya Masuk 3 Besar Pejabat dengan Penilaian Positif

Dalam keterangannya, Br Stephanus Paiman mengatakan investigasi dilakukan menyusul adanya pengaduan warga terkait penahanan dua warga Desa Inggis -- Sungkio yang merupakan Ketua RT dan Aten -- oleh penyidik Polres Sanggau pada 2025.

Keduanya ditetapkan sebagai tersangka dalam dugaan kasus Pertambangan Emas Tanpa Izin (PETI).

Menurut Br Stephanus, sejumlah warga mendatangi FRKP dengan membawa foto dan video.

Mereka mengaku keberatan karena menilai proses penangkapan terhadap kedua warga tersebut tidak sesuai dengan kondisi yang sebenarnya terjadi di lapangan.

"Dua hari setelah menerima laporan, saya bersama Mas Tomo berangkat menuju Desa Inggis menggunakan ambulans," kenang Br Stephanus Paiman.

"Dari Kota Sanggau kami menuju Desa Penyeladi, kemudian melanjutkan perjalanan melalui perkebunan sawit hingga ke dermaga dan menyeberangi Sungai Kapuas menggunakan speedboat," ujarnya.

Selama perjalanan menyusuri Sungai Kapuas, rombongan mengaku melihat sejumlah aktivitas pertambangan emas tradisional di sepanjang sungai.

Dokumentasi berupa foto dan video juga diambil sebagai bagian dari investigasi lapangan.

Setibanya di Desa Inggis, tim langsung bertemu masyarakat dan meninjau lokasi dompeng yang biasa dikerjakan warga.

Baca Juga: Sosok Tian Ngantung, Pembalap yang Terlibat Kecelakaan Maut Drag Race Kotamobagu

Berdasarkan penuturan masyarakat, aktivitas tersebut dilakukan secara tradisional dengan sistem kelompok, di mana satu lubang dikelola sekitar lima kepala keluarga secara bergantian. Selain menambang, sebagian besar warga juga bekerja sebagai nelayan.

Warga menjelaskan bahwa aktivitas dompeng hanya dilakukan pada musim hujan.

Halaman:

Tags

Terkini