Ia menceritakan bahwa mayoritas penduduk merupakan warga keturunan Tionghoa yang telah lama berasimilasi dengan masyarakat Dayak.
Seluruh warga desa disebut memeluk agama Kristen, dengan mayoritas beragama Katolik.
"Saya sangat terkesan dengan keramahan warga. Meski sebagian orang tua lebih fasih berbahasa Tionghoa sehingga beberapa percakapan harus diterjemahkan, suasana kekeluargaan sangat terasa. Bahkan di batas desa berdiri salib sebagai penanda identitas masyarakatnya. Pengalaman itu menjadi kenangan yang tidak terlupakan," tuturnya. ***
Artikel Terkait
Mgr Samuel Oton Sidin Jadi Administrator Apostolik, Begini Aturan Pensiun Uskup dan Peluang Biarawan Kapusin Itu Jadi Uskup Agung Pontianak
Mengenal Kapusin, Ordo Katolik yang Mengabdi di Indonesia Sejak Awal Abad ke-20 dan Membangun Pondasi Katolik di Kalbar
Menembus Batas Altar, Kiprah Kemanusiaan Tanpa Sekat Bruder Stephanus Paiman OFM Cap
Brotherhood Rolling City Satukan Komunitas Motor di Pontianak, Br Stephanus Paiman Sebut Wadah Positif yang Patut Didukung
Bruder Stephanus Paiman OFMCap Pamit dari PERHAKIN Kalbar Usai Mengabdi Tiga Periode
Parade Skuter Borneo XXI Hadirkan Kisah Persaudaraan Lintas Negara, Br Stephanus Paiman Bertemu Kembali Penolongnya dari Sabah