PONTIANAKGLOBE.COM, JAKARTA -- Dampak perubahan iklim semakin nyata dirasakan di berbagai wilayah Indonesia.
Mulai dari banjir rob di Kota Pekalongan, perubahan pola hujan yang mengganggu pertanian masyarakat adat Kajang di Kabupaten Bulukumba, menurunnya produktivitas kopi Toraja akibat cuaca ekstrem, hingga meningkatnya risiko banjir perkotaan di Samarinda.
Baca Juga: Pegiat Lingkungan Ungkap Fakta Longsor Cisarua: Petani Bukan Penyebab, Krisis Iklim Jadi Pemicu
Beragam kondisi tersebut menunjukkan bahwa adaptasi perubahan iklim tidak dapat dilakukan oleh satu pihak saja.
Kolaborasi antara pemerintah, masyarakat, komunitas lokal, sektor swasta, dan mitra pembangunan dinilai menjadi kunci untuk membangun ketahanan iklim yang berkelanjutan.
Isu tersebut menjadi fokus dalam Seminar Nasional Adaptasi Perubahan Iklim yang diselenggarakan KEMITRAAN bersama Kementerian Lingkungan Hidup (KLH) dengan dukungan Adaptation Fund (AF) di Jakarta, 24–25 Juni 2026.
Direktur Adaptasi Perubahan Iklim Kementerian Lingkungan Hidup/Badan Pengendalian Lingkungan Hidup, Franky Zamzani, mengatakan pemerintah telah menempatkan isu perubahan iklim sebagai salah satu prioritas pembangunan nasional melalui agenda Asta Cita.
Menurutnya, berbagai kebijakan terus disusun untuk memperkuat kapasitas pemerintah daerah dan masyarakat dalam menghadapi dampak perubahan iklim, termasuk melalui pengembangan program adaptasi berbasis masyarakat.
"Praktik-praktik baik yang lahir dari daerah perlu menjadi bagian dari solusi nasional. Pengalaman masyarakat di Pekalongan, Bulukumba, Toraja, maupun Samarinda menunjukkan bahwa solusi yang berangkat dari kebutuhan lokal sering kali menjadi pendekatan yang paling efektif," ujarnya.
Baca Juga: AlPeKaJe Dorong Tindakan Nyata Kaum Muda Wujudkan Keadilan Iklim dan Sosial
Franky menambahkan, tantangan berikutnya adalah memperluas penerapan berbagai praktik tersebut sekaligus mengintegrasikannya ke dalam kebijakan pembangunan nasional.
Program Adaptasi Dijalankan di Sejumlah Daerah
Sejak 2019, Kementerian Lingkungan Hidup bersama KEMITRAAN melalui dukungan Adaptation Fund telah menjalankan berbagai program adaptasi perubahan iklim di sejumlah daerah yang menghadapi ancaman iklim berbeda.
Di Kota Pekalongan, program difokuskan pada penanganan banjir rob dan kenaikan muka air laut yang mengganggu permukiman serta aktivitas ekonomi masyarakat pesisir.
Sementara di Kabupaten Bulukumba, program diarahkan untuk memperkuat ketahanan masyarakat adat Kajang yang terdampak perubahan pola hujan.