Di wilayah Daerah Aliran Sungai Saddang, Sulawesi Selatan, upaya adaptasi dilakukan untuk membantu menjaga produktivitas kopi Toraja yang menurun akibat cuaca ekstrem.
Adapun di Kota Samarinda, penguatan tata kelola, kapasitas masyarakat, dan mitigasi risiko banjir menjadi fokus utama dalam menghadapi dampak perubahan iklim.
Baca Juga: WiME dan Kalaway Dorong Lintas Generasi Bicara Perubahan Iklim Indonesia
Melalui berbagai program tersebut, pemerintah bersama para mitra mendorong peningkatan kapasitas masyarakat, memperkuat perencanaan pembangunan yang adaptif terhadap perubahan iklim, serta membangun kolaborasi antara pemerintah pusat, pemerintah daerah, pemerintah desa, kelompok masyarakat, hingga kelompok rentan.
Adaptation Fund Dukung Ketahanan Iklim Indonesia
Perwakilan Adaptation Fund, Hugo Remaury, mengatakan organisasinya mendukung berbagai inisiatif yang bertujuan meningkatkan ketahanan masyarakat terhadap dampak perubahan iklim di berbagai negara, termasuk Indonesia.
Menurutnya, keberhasilan adaptasi perubahan iklim sangat bergantung pada kemampuan menghadirkan solusi yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat setempat.
"Masyarakat yang berada di garis depan menghadapi dampak perubahan iklim bukan hanya penerima manfaat, tetapi juga sumber pengetahuan dan inovasi. Ketika pendanaan iklim dipadukan dengan kepemimpinan lokal dan kolaborasi yang kuat, hasilnya akan lebih inklusif dan berkelanjutan," katanya.
Direktur Eksekutif KEMITRAAN, Nurina Widagdo, mengatakan setiap daerah memiliki tantangan perubahan iklim yang berbeda sehingga membutuhkan strategi adaptasi yang disesuaikan dengan kondisi masing-masing.
Menurutnya, keberhasilan program adaptasi lahir dari sinergi antara kebutuhan masyarakat, komitmen pemerintah, pengetahuan lokal, dan dukungan berbagai mitra pembangunan.
Nurina menegaskan adaptasi perubahan iklim tidak hanya bertujuan mengurangi risiko bencana, tetapi juga memastikan masyarakat memiliki kapasitas, sumber daya, dan peluang ekonomi yang lebih baik di tengah perubahan iklim.
Ia menambahkan, KEMITRAAN juga telah bekerja sama dengan berbagai organisasi masyarakat sipil di Sulawesi Selatan, Maluku Tengah, dan Samarinda dalam menjalankan program adaptasi berbasis masyarakat.
Selain itu, KEMITRAAN berhasil memperoleh akreditasi dari Adaptation Fund setelah memenuhi standar internasional dalam tata kelola kelembagaan, pengelolaan keuangan, manajemen risiko, serta perlindungan lingkungan dan sosial.
Akreditasi tersebut membuka peluang bagi Indonesia untuk mengakses lebih banyak pendanaan iklim internasional guna memperkuat program adaptasi dan meningkatkan ketahanan masyarakat terhadap dampak perubahan iklim.
Seminar Nasional Adaptasi Perubahan Iklim diharapkan menjadi wadah berbagi pengalaman antardaerah sekaligus memperkuat kolaborasi multipihak dalam membangun Indonesia yang lebih tangguh, inklusif, dan adaptif menghadapi perubahan iklim. ***
Artikel Terkait
Banjir Bandang Terjang Bone, Lansia dan Bocah 5 Tahun Dilaporkan Tewas
Banjir Bandang Terjang Gorontalo Utara, Ratusan Rumah Tertimbun Lumpur dan Material Kayu
Hari Laut Sedunia, Perubahan Iklim Ancam Nelayan, Akuakultur Dinilai Jadi Solusi Masa Depan
Laporan PBB Ungkap Generasi Muda akan Menanggung Dampak Terbesar Krisis Iklim
Dari Kanopi ke Sungai, Membaca Dampak Perubahan Iklim di Jantung Borneo
Ketika Isu Hutan, Iklim, dan Masyarakat, Bersama GIZ dan GCF Bertemu dalam Satu Meja, Begini Inisiatif Berkelanjutan untuk Kalimantan Barat