"Generasi mendatang berpotensi menanggung dampak yang lebih besar dari kerusakan lingkungan yang terjadi saat ini," kata Patria Rizky Ananda, Pengkampanye Iklim dan Isu Global.
Peringatan dari Ilmuwan Dunia
Sebelumnya, Panel Antarpemerintah tentang Perubahan Iklim (IPCC) dalam laporan sintesis AR6 menegaskan bahwa aktivitas manusia menjadi penyebab utama pemanasan global yang terjadi saat ini.
Kenaikan suhu rata-rata Bumi telah mencapai sekitar 1,1 derajat Celsius dibandingkan masa pra-industri.
Jika emisi gas rumah kaca tidak ditekan secara signifikan, suhu global berpotensi meningkat jauh di atas target yang disepakati dalam Perjanjian Paris.
Menurut IPCC, peningkatan suhu tersebut akan memperbesar risiko gelombang panas, hujan ekstrem, kekeringan berkepanjangan, serta berbagai bencana terkait iklim lainnya.
Para ilmuwan menilai upaya mengurangi emisi gas rumah kaca harus berjalan seiring dengan perlindungan ekosistem penting seperti hutan hujan tropis, lahan gambut, dan mangrove.
Ketiga ekosistem tersebut memiliki peran penting dalam menyerap karbon sekaligus menjaga keseimbangan lingkungan.
Indonesia sendiri memiliki salah satu kawasan hutan tropis terbesar di dunia, termasuk hutan gambut dan mangrove yang berfungsi sebagai penyimpan karbon alami.
Karena itu, keberhasilan menjaga ekosistem tersebut akan berpengaruh tidak hanya bagi Indonesia, tetapi juga bagi upaya dunia menghadapi krisis iklim.
Peringatan Hari Lingkungan Hidup setiap tahun menjadi pengingat bahwa tantangan perubahan iklim bukan hanya persoalan lingkungan, melainkan juga menyangkut masa depan ekonomi, kesehatan, pangan, dan kualitas hidup generasi mendatang. ***