Permintaan tersebut dikabulkan, dan ia kemudian memakamkan Yesus di makam yang telah dipersiapkannya sendiri.
Baca Juga: Padre Markus Solo Kewuta SVD Terima Anugerah PWKI di Vatikan, Penghargaan untuk Pejuang Perdamaian
Karya Pertama dan Langka
Menurut Putut Prabantoro, patung ini diyakini sebagai karya pertama di Indonesia dengan adegan penurunan Yesus oleh Yusuf Arimatea.
Bahkan, karya serupa dinilai sulit ditemukan di berbagai belahan dunia, termasuk di Roma.
Proses pembuatan patung dilakukan bersama Brata Gallery di Yogyakarta.
Putut mengungkapkan bahwa sebelum membuatnya, ia telah melakukan penelusuran mendalam, namun tidak menemukan referensi visual yang sesuai.
“Para pematung bahkan meminta contoh model, sementara toko-toko patung rohani mengaku belum pernah memiliki karya seperti ini,” jelasnya.
Inspirasi dan Detail Artistik
Desain patung ini terinspirasi dari kisah yang diceritakan oleh kakak Putut, L. Putut Widiantoro, yang mengaku mendapat pengalaman spiritual berupa visi mengenai peristiwa penurunan tubuh Yesus.
Berdasarkan rekonstruksi tersebut, Putut merancang detail patung secara khusus, terutama untuk menonjolkan proses penurunan yang penuh makna.
Ada dua aspek utama dalam patung ini, yakni warna dan penamaan.
Dalam konsep awal, setiap tokoh memiliki warna berbeda.
Namun untuk menegaskan fokus pada Yusuf Arimatea, hanya tokoh tersebut yang diberi warna khusus, sementara tokoh lainnya dibuat berwarna hitam sebagai simbol duka cita.
Selain itu, penamaan patung menggunakan bahasa Ibrani dan Latin, dua bahasa yang digunakan pada masa penyaliban Yesus.