PONTIANAKGLOBE.COM, ACEH -- Di tengah keterbatasan yang dirasakan warga pascabanjir di sejumlah wilayah Aceh, sebuah momen sederhana justru menyisakan keharuan mendalam. Di salah satu lokasi pengungsian, relawan yang tengah menyalurkan bantuan menyaksikan peristiwa kecil yang sarat makna.
Seorang bocah laki-laki mendekati meja pembagian bantuan dengan langkah ragu. Dengan suara pelan, ia menyampaikan permintaannya kepada relawan yang berjaga.
“Kak, selimut satu,” ucapnya lirih.
Baca Juga: Dalih Aturan Desa, Oknum Palak Wisatawan di Bangsring Underwater
Saat relawan hendak menyerahkan selimut tersebut, bocah itu kembali menoleh. Ia lalu menambahkan permintaan lain yang membuat suasana seketika hening.
“Satu lagi untuk mamak,” katanya singkat.
Permintaan itu sontak menyentuh hati para relawan. Dalam kondisi serba kekurangan dan dinginnya malam pascabanjir, bocah tersebut tidak hanya memikirkan dirinya sendiri. Ia justru memastikan ibunya juga mendapat perlindungan.
Momen tersebut menjadi gambaran betapa kuatnya ikatan kasih sayang antara anak dan orang tua, bahkan di tengah krisis. Di saat banyak orang berjuang memenuhi kebutuhan pribadi, kepolosan bocah itu menghadirkan pelajaran tentang empati, cinta, dan ketulusan yang lahir tanpa pamrih.***