Evakuasi dilakukan setelah BMKG mengeluarkan peringatan dini tsunami menyusul gempa kuat yang terjadi di NTT.
BMKG menjelaskan gempa tersebut berkaitan dengan aktivitas Sesar Busur Belakang Flores atau Flores Back-Arc Thrust.
Gempa dangkal tersebut memicu guncangan kuat dan sempat menimbulkan potensi tsunami di sejumlah wilayah pesisir.
Namun, peringatan dini tsunami kemudian dinyatakan berakhir setelah BMKG tidak lagi mencatat kenaikan muka air laut yang signifikan dan membahayakan masyarakat.
“BMKG tidak lagi mencatat adanya kenaikan muka air laut yang signifikan dan membahayakan masyarakat di sepanjang pesisir terdampak,” ujar Deputi Bidang Geofisika BMKG, Nelly Florida Riama, dalam keterangannya.
Gempa tersebut juga menimbulkan korban jiwa dan luka-luka di sejumlah wilayah NTT.
Gubernur NTT Emanuel Melkiades Laka Lena menyampaikan, berdasarkan pemutakhiran data, sebanyak 33 orang meninggal dunia dan 23 lainnya mengalami luka-luka.
“Saat ini data yang kami miliki, ada korban meninggal 33 orang: di Sikka 3 orang, Ende 1 orang, Manggarai 14 orang, Manggarai Timur 14 orang, dan Manggarai Barat 1 orang,” kata Melki kepada awak media saat berada di Maumere, Sabtu, 15 Agustus 2026.
Proses pencarian dan evakuasi masih dilakukan di sejumlah lokasi. Karena itu, data korban berpotensi berubah seiring proses pendataan dan penanganan di lapangan. ***
Artikel Terkait
289 Siswa di Karo Diduga Keracunan MBG, Bupati Sebut Kondisi Tak Mengkhawatirkan
Pria Ketahuan Rekam Diam-diam Penumpang Perempuan di KRL Stasiun Sudirman
Dapur MBG di Mojokerto Meledak dan Terbakar, 5 Orang Luka
CCTV Viral, Dua Anggota Satpol PP Aceh Utara Diperiksa Terkait Dugaan Pengambilan Rokok Sitaan
Kondisi Labuan Bajo Usai Gempa M7,7, Warga Ungkap Air Laut Sempat Surut
Mahasiswa Baru UNNES Meninggal Usai Kecelakaan, Jadwal Ospek Jadi Sorotan