Karena itu, kerusakan terumbu karang bukan hanya masalah lingkungan, tetapi juga ancaman terhadap ketahanan pangan dan ekonomi masyarakat pesisir.
Pentingnya Pemantauan Jangka Panjang
Para peneliti menilai Indonesia memerlukan sistem pemantauan terumbu karang yang lebih terkoordinasi secara nasional.
Selama ini, kondisi terumbu karang sering kali hanya diukur berdasarkan luas tutupan karang hidup.
Padahal kesehatan ekosistem juga ditentukan oleh banyak faktor lain, seperti tingkat pemutihan, kematian karang, kemampuan pemulihan, hingga keberhasilan pertumbuhan koloni baru.
Dengan meningkatnya frekuensi gelombang panas laut akibat perubahan iklim, data pemantauan menjadi kunci untuk menentukan langkah konservasi yang tepat.
"Masa depan terumbu karang Indonesia tidak hanya bergantung pada kemampuan alaminya bertahan terhadap panas, tetapi juga pada upaya manusia menjaga kondisi yang memungkinkan karang pulih setelah mengalami tekanan," tulis para peneliti.
Bagi negara kepulauan seperti Indonesia, menjaga terumbu karang berarti menjaga sumber pangan, ekonomi pesisir, sekaligus warisan alam yang menjadi salah satu kekayaan terbesar bangsa. ***
Artikel Terkait
Viral! Pesawat Kargo Emirates Tergelincir dan Tercebur ke Laut di Hong Kong, 2 Tewas
Prabowo Bangun Tanggul Laut 535 Km di Pantura, Lindungi 50 Juta Warga dari Air Laut Naik
Pasang Air Laut Naik Cepat, Pemerintah Kota Pontianak Disorot Soal Penanganan Banjir Rob Tahunan
13 Jam Terombang-ambing! 3 Nelayan Diselamatkan Pemancing di Laut Banten
Hari Laut Sedunia, Perubahan Iklim Ancam Nelayan, Akuakultur Dinilai Jadi Solusi Masa Depan
Terumbu Karang Indonesia Masih Bertahan dari Pemanasan Laut, Tetapi Alarm Bahaya Sudah Berbunyi