Fakta di Balik Isu Beras Rusak, Mentan Bongkar Angka Sebenarnya

photo author
Nugroho Christian, Pontianak Globe
- Jumat, 10 Oktober 2025 | 10:12 WIB
Mentan Andi Amran tanggapi laporan Bapanas soal beras turun mutu atau rusak.  (Dok. Instagram/a.amran_sulaiman)
Mentan Andi Amran tanggapi laporan Bapanas soal beras turun mutu atau rusak. (Dok. Instagram/a.amran_sulaiman)

PONTIANAKGLOBE.COM, JAKARTA -- Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menanggapi laporan Badan Pangan Nasional (Bapanas) terkait adanya stok beras cadangan pemerintah yang mengalami penurunan mutu.

Dalam laporan tersebut disebutkan bahwa sekitar 29,9 ribu ton beras cadangan beras pemerintah (CBP) mengalami penurunan kualitas. Menurut Amran, jumlah itu hanya sebagian kecil dari total stok beras pemerintah yang mencapai 4,2 juta ton.

Amran meminta agar publik tidak hanya fokus pada beras yang rusak, tetapi juga melihat capaian besar dalam ketersediaan beras nasional.

Baca Juga: Biznet Komitmen Perluas Jaringan Hingga Perbatasan Kalbar, Saat ini sudah 4000 Pelanggan Aktif

“Dari 29 ribu ton, anggaplah 30 ribu ton, dibandingkan dengan 4,2 juta ton itu hanya 0,071 persen. Dulu tidak ada beras rusak karena stoknya memang sedikit,” ujar Amran di Istana Kepresidenan, Kamis (9/10/2025).

Ia menambahkan bahwa stok beras yang melimpah membuat pemerintah harus menambah kapasitas gudang penyimpanan. Karena itu, menurutnya, keberhasilan produksi beras yang tinggi juga patut diapresiasi.

“Sekarang ada 0,071 persen beras rusak, itu yang ramai disorot. Tolong juga lihat keberhasilan kita menyimpan 4 juta ton beras, tidak mudah menghasilkan sebanyak itu dalam satu tahun,” katanya.

Terkait masalah penyimpanan, Amran mengungkapkan bahwa Presiden Prabowo telah mengalokasikan anggaran sebesar Rp5 triliun untuk membangun gudang baru bagi Perum Bulog. Saat ini, Bulog masih harus menyewa gudang tambahan dengan kapasitas mencapai 1,2 juta ton untuk menampung seluruh stok CBP.

Sementara itu, untuk beras yang sudah turun mutu, Amran menyebut sebagian akan diproses ulang atau dijadikan pakan ternak bila tidak layak konsumsi.

“Saat ini ada sekitar 3,7 hingga 3,8 juta ton beras, dan lebih dari 3 juta ton sudah terserap. Jadi stok kita masih aman untuk enam bulan ke depan. Kalau dari hasil pengecekan 29 ribu ton itu tidak layak, maka akan digunakan sebagai pakan ternak,” jelasnya.

Hal serupa juga disampaikan oleh Direktur Perum Bulog, Ahmad Rizal Ramdhani. Menurutnya, pihak Bulog akan melakukan proses pembersihan dan pengujian ulang terhadap beras yang turun mutu.

“Kami akan lakukan reprocessing, dibersihkan dan diuji di laboratorium. Jika masih layak, akan disalurkan ke masyarakat, dan yang tidak layak akan dijadikan bahan pakan ternak,” ungkapnya.

Baca Juga: Magang Bergaji Nasional Akan Diperluas? Pemerintah Siapkan Penyerapan 100 Ribu Tenaga Muda

Lebih lanjut, Amran optimistis Indonesia akan mencapai swasembada beras pada akhir 2025 tanpa perlu impor.

“Selama tidak terjadi cuaca ekstrem, kita akan swasembada. Saat ini produksi sudah mencapai 33,1 juta ton menurut BPS, dan diperkirakan naik menjadi 34 juta ton di akhir tahun, meningkat dari 30 juta ton tahun lalu,” tuturnya.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Editor: Nugroho Christian

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X