Barang head inilah yang harganya bisa digoreng hingga Rp150.000–Rp300.000 per potong.
Baca Juga: Gym Membership vs Olahraga Gratis di Taman Digulis: Mana Investasi Kesehatan yang Paling Ramah UMK?
Sisa barang lainnya (kategori body) dijual murah di kisaran Rp20.000–Rp50.000 untuk mengembalikan modal awal.
Bagi pelapak kreatif di Jeruju mereka tidak sekadar menjual baju bekas.
Mereka mencuci bersih (laundry), menyetrika uap, memberi wewangian, hingga memfotonya dengan estetika tinggi untuk dipasarkan kembali lewat Instagram atau TikTok.
Value added (nilai tambah) inilah yang membuat keuntungan bersihnya bisa mencapai 100% dari modal awal.
Tantangan Regulasi: Ancaman Nyata di Depan Mata
Meskipun terlihat selalu ramai dan perputaran uangnya cepat, bisnis thrifting di Pontianak saat ini sedang menghadapi tantangan terbesar sepanjang sejarahnya.
Pemerintah pusat semakin memperketat keran impor barang bekas dengan alasan melindungi industri tekstil dalam negeri dan faktor higienitas.
Bagi para pedagang di Jeruju dan Pasar Tengah, hal ini memicu dua dampak instan:
1. Harga Bal Segel Meroket: Karena pasokan di pelabuhan diperketat, harga modal satu karung bal naik drastis.
2. Kualitas Barang Menurun: Akibat pasokan yang tersendat, pelapak sering kali mendapatkan bal dengan persentase barang zonk (rusak atau robek) yang lebih tinggi.
Strategi Bertahan: Pivot ke "Curated Thrift" dan Rework
Lantas, apakah bisnis ini bakal mati?
Jawabannya: tidak dalam waktu dekat, asalkan pebisnisnya mau beradaptasi.
Pelapak generasi baru di Pontianak mulai mengubah strategi mereka dari yang tadinya "jual kuantitas" menjadi Curated Thrift (Thrift Terkurasi).
Mereka tidak lagi membeli bal acak, melainkan berburu barang satu per satu (hunting manual) ke pasar-pasar tradisional, lalu mengemasnya secara eksklusif.
Selain itu, tren Upcycling atau Rework Fashion juga mulai menjamur.