Ketua Dewan Ekonomi Nasional (DEN) Luhut Binsar Pandjaitan menilai langkah itu sebagai solusi paling realistis. Ia mengakui sejak awal proyek Whoosh sudah penuh masalah dan butuh pembenahan serius.
“Saya terima sudah busuk itu barang. Kemudian kita coba perbaiki, kita audit, BPKP, kemudian kita berunding dengan China,” ujar Luhut dalam acara '1 Tahun Prabowo–Gibran' di Jakarta, pada (18/10/2025).
Menurut Luhut, pemerintah kini menunggu Keputusan Presiden (Keppres) untuk mengesahkan tim restrukturisasi.
“China mau untuk melakukan (restrukturisasi). Tapi kemarin pergantian pemerintah agak terlambat. Sehingga sekarang perlu nunggu Keppres supaya timnya segera berunding,” ucapnya.
Baca Juga: Purbaya Guncang Internal Kemenkeu, Beberkan Aduan Suap, Selundupan, dan Etika Pegawai
Luhut menegaskan, restrukturisasi menjadi jalan keluar utama tanpa melibatkan APBN.
“Kita ribut-ribut Whoosh, Whoosh itu tinggal restructuring saja. Siapa yang minta APBN? Enggak ada yang pernah minta APBN,” katanya.
Di tengah polemik itu, publik mulai membandingkan proyek Whoosh dengan proyek Saudi Land Bridge yang menjadi bagian dari visi ekonomi besar Arab Saudi, Vision 2030.
Land Bridge sepanjang 1.500 kilometer hanya menelan investasi 7 miliar dolar AS atau sekitar Rp116,3 triliun dan lebih murah dari proyek Whoosh yang bernilai Rp120,6 triliun, padahal hanya memiliki panjang 142,3 kilometer.***
Artikel Terkait
Bukan Cuma Soal Utang, Inilah Kesalahan Fatal di Balik Skema Bisnis Kereta Cepat Whoosh
Rp116 Triliun Membengkak, China Malah Siap Lanjutkan Proyek Whoosh
AHY Ungkap Peluang Whoosh Tembus Surabaya, Tapi Ada Syarat Beratnya
Terungkap! Biaya Proyek Whoosh Disebut 3 Kali Lipat Lebih Mahal dari Tiongkok
Danantara dan Pemerintah Bakal ke China Bahas Utang Whoosh, Tapi Menkeu Tolak Ikut
Polemik Whoosh Memanas, Mahfud MD Desak Transparansi dan Penyelidikan Hukum!