Proyek Cepat, Utang Lambat Lunas: Potret Buram Bisnis Kereta Cepat Indonesia–China

photo author
Nugroho Christian, Pontianak Globe
- Minggu, 26 Oktober 2025 | 11:22 WIB
Menyoroti nilai investasi proyek Kereta Cepat Jakarta-Bandung (KCJB) atau Whoosh.  (Dok. Instagram.com/@keretacepat.id)
Menyoroti nilai investasi proyek Kereta Cepat Jakarta-Bandung (KCJB) atau Whoosh. (Dok. Instagram.com/@keretacepat.id)

Ketua Dewan Ekonomi Nasional (DEN) Luhut Binsar Pandjaitan menilai langkah itu sebagai solusi paling realistis. Ia mengakui sejak awal proyek Whoosh sudah penuh masalah dan butuh pembenahan serius.

“Saya terima sudah busuk itu barang. Kemudian kita coba perbaiki, kita audit, BPKP, kemudian kita berunding dengan China,” ujar Luhut dalam acara '1 Tahun Prabowo–Gibran' di Jakarta, pada (18/10/2025). 

Menurut Luhut, pemerintah kini menunggu Keputusan Presiden (Keppres) untuk mengesahkan tim restrukturisasi.

“China mau untuk melakukan (restrukturisasi). Tapi kemarin pergantian pemerintah agak terlambat. Sehingga sekarang perlu nunggu Keppres supaya timnya segera berunding,” ucapnya.

Baca Juga: Purbaya Guncang Internal Kemenkeu, Beberkan Aduan Suap, Selundupan, dan Etika Pegawai

Luhut menegaskan, restrukturisasi menjadi jalan keluar utama tanpa melibatkan APBN.

“Kita ribut-ribut Whoosh, Whoosh itu tinggal restructuring saja. Siapa yang minta APBN? Enggak ada yang pernah minta APBN,” katanya.

Di tengah polemik itu, publik mulai membandingkan proyek Whoosh dengan proyek Saudi Land Bridge yang menjadi bagian dari visi ekonomi besar Arab Saudi, Vision 2030.

Land Bridge sepanjang 1.500 kilometer hanya menelan investasi 7 miliar dolar AS atau sekitar Rp116,3 triliun dan lebih murah dari proyek Whoosh yang bernilai Rp120,6 triliun, padahal hanya memiliki panjang 142,3 kilometer.***

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Nugroho Christian

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X