Purbaya Yudhi Sadewa Gantikan Sri Mulyani Sebagai Menteri Keuangan, Begini Kata BRI Danareksa tentang Perspektif Baru atas Tantangan Ekonomi Indonesia

photo author
Steve Vantax, Pontianak Globe
- Jumat, 12 September 2025 | 09:53 WIB
Chief Economist, Macro Strategist & Head of Fixed Income Research BRI Danareksa Sekuritas (BRIDS) Helmy Kristanto. (Dok. BRIDS)
Chief Economist, Macro Strategist & Head of Fixed Income Research BRI Danareksa Sekuritas (BRIDS) Helmy Kristanto. (Dok. BRIDS)

PONTIANAKGLOBE.COM, PONTIANAK -- Pemerintah resmi melantik Purbaya Yudhi Sadewa sebagai Menteri Keuangan Republik Indonesia pada 8 September 2025, menggantikan Sri Mulyani Indrawati (SMI).

Pergantian ini menjadi momen penting dalam dinamika ekonomi nasional, mengingat peran strategis Kementerian Keuangan sebagai penjaga stabilitas fiskal dan motor penggerak kebijakan ekonomi.

Baca Juga: Musim di Dunia Tidak Sama, Ini Bedanya di Australia, Eropa, Amerika, Asia, dan Afrika

Chief Economist, Macro Strategist & Head of Fixed Income Research BRI Danareksa Sekuritas (BRIDS), Helmy Kristanto, menilai pergantian ini membawa dampak besar bagi pasar keuangan.

Rupiah terpantau melemah, IHSG terkoreksi, dan imbal hasil obligasi meningkat seiring respon investor terhadap kabar tersebut.

Sri Mulyani selama ini dipandang sebagai simbol kredibilitas fiskal Indonesia.

Ia berhasil menjaga defisit anggaran di bawah 3% PDB (kecuali saat pandemi), menerima penghargaan internasional Best Minister Award 2018, serta memimpin Indonesia menghadapi dua krisis besar: Global Financial Crisis 2008 dan COVID-19. Kepergiannya dinilai sebagai kehilangan sosok yang sangat dipercaya investor domestik maupun global.

Tiga Poin Utama Kepemimpinan Purbaya

Dalam laporannya, Helmy menyoroti tiga hal utama terkait Kementerian Keuangan di bawah Purbaya:

  1. Pengalaman luas di pasar keuangan, pemerintahan, dan Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) memberi Purbaya perspektif lebih komprehensif dalam menghadapi tantangan ekonomi.

  2. Pemahaman fiskal dan likuiditas sistem berpotensi mendorong reformasi pola belanja negara yang lebih lancar dan seimbang.

  3. Sikap pro-growth dinilai tepat di tengah perlambatan ekonomi. Ia optimistis target pertumbuhan PDB 2026 sebesar 5,4% tetap tercapai jika kebijakan fiskal dan moneter berjalan selaras.

“Kami melihat pengangkatan Purbaya membuka peluang kesinambungan kebijakan dengan fokus pro-growth yang lebih kuat. Namun, respons pasar akan sangat dipengaruhi oleh langkah kebijakan awalnya,” jelas Helmy.

Dinamika Pasar Pasca Pelantikan

Pada perdagangan Selasa (9/9), rupiah dibuka melemah di Rp16.475 per dolar AS.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Editor: Steve Vantax

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X