Aan Baget, Musisi Dayak Kalimantan Membumi dengan Bahasa dan Karya

photo author
Jans Angkamor Bong, Pontianak Globe
- Selasa, 4 Maret 2025 | 15:01 WIB
Artis Dayak, Aan Baget
Artis Dayak, Aan Baget

Melalui satir dan syair yang penuh makna, ia berharap dapat membuka mata banyak orang terhadap isu-isu sosial dan budaya yang mungkin selama ini terabaikan.

Bersama Kakondan Studio di Landak di sana ditemani istri (Syentia, artis Dayak) dan abang iparnya (Wawan), Aan Baget terus berkarya tanpa henti.

Kakondan Studio bukan hanya tempat bagi Aan Baget untuk menyalurkan ide dan karyanya, tetapi juga merupakan ruang kreatif yang mendukung para musisi lokal Kalimantan untuk berkembang.

Baca Juga: Mulan Jameela Dukung Band Sukatani, Tegaskan Tindak Lanjut Jika Lagu Bayar Bayar Bayar Kembali Dihalangi

Di studio ini, Aan Baget menciptakan lagu-lagu yang tak hanya menggugah telinga pendengar dan penikmat musiknya, tetapi mengajak orang lebih mendalami nilai-nilai kearifan hidup, kesadaran sosial dan penciptaan kebanggan lokal Kalimantan.

Pada 15 Maret 2025, Aan Baget akan merilis sebuah mini album terbarunya yang sudah dinanti-nanti oleh banyak penggemarnya.

Bertempat di Weng Coffee Pontianak, mini album ini akan diluncurkan secara resmi pada pukul 20.00 WIB.

Mini album ini berisi beberapa lagu yang menggambarkan perjalanan musikalnya selama beberapa tahun terakhir, dengan tema-tema yang tetap mempertahankan identitas Dayak, namun dengan sentuhan yang lebih modern dan menyentuh berbagai kalangan.

Aan Baget (pojok kiri), Wawan (tengah), Sam (Kanan) 25 Februari 2025
Aan Baget (pojok kiri), Wawan (tengah), Sam (Kanan) 25 Februari 2025

Mini Album

Beberapa lagu dalam mini album ini di antaranya adalah “Nape Gajian”, “Bangok”, “Sorry Adi’a”, “Padi Poe’”, dan “Sunsakng Cagat”.

Lagu-lagu ini kembali menghadirkan ciri khas Aan Baget yang sangat khas, yakni paduan antara bahasa Dayak Kanayant dan lirik-lirik yang penuh makna.

Lagu “Nape Gajian”, misalnya, berbicara tentang kehidupan sehari-hari, namun dengan gaya yang sangat santai dan dekat dengan keseharian pendengarnya.

“Bangok” mengangkat tema ‘satir’, sementara “Sorry Adi’a” menyentuh tema permintaan maaf dalam konteks hubungan pasangan. “Padi Poe’” dan “Sunsakng Cagat” tak kalah menarik, dengan kekuatan pesan-pesan tentang harapan dan nilai budaya.

Dengan mini album ini, Aan Baget berusaha menunjukkan bahwa musik Dayak tidak hanya bisa dinikmati oleh masyarakat Kalimantan, tetapi juga memiliki potensi besar untuk diterima lebih luas, bahkan di luar Indonesia.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Editor: Jans Angkamor Bong

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X