Oleh: Leo Sutrisno
Betty Dameron sekeluarga, tepat di Hari Raya Semua Orang Kudus, 1 November 1992, secara resmi telah masuk ke dalam Rumah-Nya.
Sebagai ungkapan rasa syukur ia menuliskan kisah perjalanan spiritualnya menyusuri ‘the best way to go home’ baginya dan keluarga.
Selain itu, dengan menuliskan kisahnya ini, Betty Dameron, berharap menjadi ‘penebus dosa’ fitnah yang telah dilakukannya kepada Gereja Katolik sebelumnya. Tentu juga, baginya menjadi saluran pelepasan emosi yang telah lama menekan hatinya.
Betty Dameron, dilahirkan dan dibesarkan dalam keluarga Non-Katolik yang taat. Ia pun sangat mantap mencintai Yesus dan Kitab Suci.
Menginjak usia dewasa Betty Dameron meninggalkan denominasi serta teologinya. Betty menjadi anggota gereja Calvinis. Teologi John Calvin dihidupi nyadengan semangat penuh.
Betty Dameron sangat anti Katolik. Dalam benaknya tertanam paham bahwa Gereja Katolik itu anti Kitab Suci. Tidak tahu Keselamatan, dan sebagainya seperti yang dikembangkan oleh para pengikut Fondamentalis.
Di pertengahan musim semi 1990, Betty Dameron mengalami goncangan emosional yang sangat kuat. Ia mengalami komplikasi serta keguguran.
Kala itu, Betty Dameron meyakini semboyan Luther yang mengatakan bahwa setiap orang itu merupukan tumpukan kotoran yang tertutup salju, sebagai pendosa yang malang.
Tetapi, menurutnya, ia berbeda dari sebagian orang yang tidak percaya akan keselamatan yang dijanjikan Kristus. Hal inilah yang membuat Betty Dameron berbangga diri dan sombong.
Dalam waktu istirahhat total itu, Betty Dameron mempunyai waktu memikirkan kembali relasinya dengan Kristus.
Betty Dameron merasa Tuhan sedang memegang cermin di depan mukanya. Ia terkejut ketika mendapati dirinya telah menjadi seorang farisi spiritual.
Tuhan menunjukkan padanya bahwa pandangan itu merupakan kombinasi antara kebenaran dan kesalahan.
Benar bahwa dirinya memerlukan rahmat-Nya untuk menjaga dan menjauhkan diri dari perbuatan dosa. Salah karena ia meyakini bahwa Tuhan telah menciptakan dirinya sebagai pribadi yang bertanggungjawab dan rasional yang harus selalu meraih rahmat-Nya.
Betty Dameron merasa berada di padang gurun. Ia merasa tidak mampu menggunakan Kitab Suci menjadi pembebas dari depresinya.
Betty Dameron memohon bantuan Tuhan. Tuhan pun menjawab permohonannya dengan mengirimkan lagu-lagu John Michael Talbot yang mengalun dari sebuah statsiun radio Evangelis.