Di depan banyak orang, agak malu-malu, David Minirth setuju. Dia berjanji, setiap akan membaca Alkitab berdoa lebih dahulu.
Janji tersebut sungguh dilakukannya. David Minirth merasa Tuhan sedang berbicara kepada dirinya. Ia mulai yakin bahwa Yesus-lah yang dicarinya.
Perjalanan selanjutnya, selama dua puluh tahun-an untuk menemukan Gereja Sejati, ia menyusuri lika-liku berbagai lorong sejumlah dedominasi, Gereja yang didirikan Yesus sendiri belum juga ditemukannya.
Akhirnya, tibalah di Costa Mesa. Ia kuliah di sebuah seminari di sana. Setelah selesai studi, bersama istri David Minirth kembali ke Florida.
Di Florida, mereka merintis mendirikan gereja sendiri dengan liturgi yang sesuai dengan keyakinannya, yaitu menyelenggarakan upacara Perjamuan Terakhir Tuhan secara rutin tiap Minggu.
Kejadian luar biasa muncul lagi dalam suatu kebaktian hari Minggu, tahun 1986. Ketika sedang menyiapkan liturgi Perjamuan Terakhir Tuhan, tiba-tiba dalam pikirannya masuk apa yang dikatakan Paulus.
“Barang siapa dengan cara yang tidak hormat makan roti atau minum cawan Tuhan, ia berdoa terhadap tubuh dan darah Tuhan. Karena itu, hendaklah tiap-tiap orang menguji dirinya sendiri dan baru sesudah itu ia makan roti dan minum dari cawan itu. Karena barang siapa makan dan minum tanpa mengakui tubuh Tuhan, ia mendatangkan hukuman atas dirinya”(1Kor 11: 27-28).
Saat itu, sebagai seorang pendeta, David Minirth teringat apa yang telah diperbuatnya. Beberapa kali David mengizinkan keluarga untuk bercerai.
Padahal, dalam studi Kitab Sucinya, ia menemukan bahwa perkawinan itu tidak dapat diceraikan. Perceraian dalam suatu perkawinan tidak alkitabiah.
Ia merasa berdosa dan tidak layak melakukan Perjamuan Terakhir. Roh Kudus sedang berbisik kepadanya agar tidak melakukan Perjamuan Terakhir itu. “Lakukan ini sekarang!”
Kebaktian pun langsung dihentikan. Setelah memberi berkat kepada umatnya. Berkat itu adalah berkat yang terakhir kali ia berikan..
Perjalanan mencari Gereja Sejati terus berlanjut. Langkah David Minirth terus berayun bersama istri dan kelima anaknya. Penyertaan mereka ini membesarkan hati David Minirth.
Dokumen Vatikan II dan pasca Vatikan II dipelajari lagi lebih seksama. Ia mencari tahu apa kata Gereja Katolik tentang perceraian dalam suatu perkawinan.
David Minirth sangat terkesan dengan ajaran Familiaris Consortio, Paus Yohanes Paulus II. Ia kagum dengan kebijaksanaan, kesetiaan kepada Yesus, dan keanggunan penggembalaan Paus Yohanes Paulus II.
Hatinya menjadi terbuka dengan ajaran Gereja Katolik. Pun istri dan anak-anak mereka.