Oleh: Leo Sutrisno
Pada suatu hari Minggu di tahun 1980-an, seorang pemuda Florida, David Minirth, mengunjungi sebuah gereja kecil di sudut Costa Mesa, California. Ia merasa aneh. Walau datang awal, gereja sudah penuh.
Keadaannya sangat jauh berbeda dari gerejanya di Florida. Datang terlambat pun masih dapat memperoleh kursi yang paling depan.
Gereja kecil ini penuh dengan kaum heppies. Sebuah gerakan kelompok sosial baru yang sedang melanda kalangan muda Amerika sejak akhir 1960-an. Rambut grondong, celana levis yang berlobang-lobang menjadi ‘brand’ mereka.
Dulu, David Minirth juga masuk kelompok itu untuk beberapa waktu. Karena tidak menemukan sesuatu yang bermakna bagi hidupnya, perlahan-lahan ia ke luar dari kelompok ini.
Ia juga mengundurkan diri dari Universitas Florida dan langsung mendaftarkan diri menjadi anggota Pasukan Cadangan untuk perang Vietnam.
Ternyata, sebagian anggota Pasukan Cadangan ini pun tidak bebas dari arus budaya baru itu. Hura-hura, mabuk dan tentu juga obat.
BACA JUGA: Sejumlah Penyakit yang Erat dengan Hidung Tersumbat
Syukurlah ia tidak tergoda untuk bergabung lagi. David justru merenung diri. Ia bertanya reflektif. “Apakah ada makna spiritual pada hidup saya ini?”
Pencarian jawabannya dimulai. Berbagai ajaran spiritual Timur dipelajari.
Ketika kapalnya berlabuh di Nortflok, Virginia. David Minirth bergabung dengan Edgar cayce Institute Virginia Beach. Lembaga ini, didirikan tahun 1931, oleh Edgar cayce, membantu seseorang mengubah hidupnya ke arah yang lebih baik..
David Minirth menerima tuntunan laku membebaskan karma untuk menemukan ‘kepenuhan’ di hari depan. Untuk sementara ia sudah merasa menemukan makna spiritual dari hidupnya. Tetapi, perjalanan spiritual David Minirth, belum selesai.
Suatu waktu, salah seorang anggota Pasukan Cadangan memberi saran agar mendalami spiritual kekristenan. Ia kaget. Sudah lama David Minirth berusaha menjauhkan diri dari kehidupan religius orang tuanya, keluarga Presbiterian.
Namun, dorongan lembut terus menyusup di hati dari waktu ke waktu. Beberapa bulan kemudian, David Minirth merasa sesuatu telah menuntun langkah kaki hingga berhenti di depan sebuah toko buku Kristen.
Ia membeli Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru versi Bahasa Inggris Baru. Peristiwa tak terduga terjadi. Kasir hanya bersedia menyerahkan buku yang sudah dibayarnya itu jika David Minirth berjanji bersedia, dengan sungguh-sungguh, akan berdoa lebih dahulu sebelum membaca Alkitab.