Pandangan Filosofis Fransiskan
Sebagaimana yang diteladankan oleh Santo Fransiskus Asissi bahwa ada tiga hal yang paling menonjol dari semangat uniknya.
Poin pertama, cara pandang Fransiskan mesti mampu melihat 'keindahan' dari setiap peristiwa hidup.
Apapun itu, misalnya kejadian yang memberikan kemalangan hingga peristiwa yang membawa luka, justru sebagai seorang Fransiskan hal yang paling utama yakni mindset untuk melihat segala sesuatu secara indah dan penuh berkat.
Poin kedua semangat Fransiskan yaitu semangat untuk bersaudara dengan semua alam ciptaan.
Tema kedua ini lebih menyoroti semangat persaudaraan (bersaudara) pada semua ciptaan yang hidup dimuka bumi ini, misalnya yang utama adalah sesama manusia, hewan, tumbuhan, termasuklah segala cuaca dan unsur-unsur alam lainnya.
Yang menarik lagi yakni cara pandang Fransiskan dalam melihat 'kematian' sebagai 'saudari'. Jika ditelaah secara awam, kematian tetaplah menjadi hal yang mengerikan bahkan kematian adalah ketakutan dari semua makhluk hidup setidaknya manusia yang menyadari bahwa itu adalah hal yang mengerikan.
Tapi sebagai seorang Fransiskan kematian justru bukanlah sebuah peristiwa yang ditakutkan lagi.
Santo Fransiskus Asissi menjelang kematiannya, justru melihat dan memanggil 'saudari maut' untuk 'menggiring'-nya menuju kehidupan yang lebih kekal. Akhirnya Santo Fransiskus wafat tetap pergi dengan damai.
Cara pandang Fransiskan melihat kematian sebagai 'saudari maut' boleh dibilang sebuah cara pandang yang melampaui cara pandang manusia biasa, oleh karenanya pengikut Santo Fransiskus Asissi diminta agar mampu melihat kesempatan hidup dan mati merupakan "nilai" yang "sama mulia"nya.
Setelah membahas cara hidup dan pandangan unik dari teladan hidup Santo Fransiskus Assisi, pertemuan itu ditutup dengan Ibadat harian atau ofisi atau brevir siang pukul 12.00 wib sekaligus menandai waktu untuk menguduskan hari dengan doa.
Usai ibadat bersama, semua saudara OFS diajak santap siang bersama sembari menunggu hujan reda. Meskipun saudara air sudah memenuhi setiap sudut lantai di rumah Saudara Tuparman dan ternyata hujan yang deras rupanya mengundang saudara air untuk 'nimbrung' bersama dalam diskusi siang tentang persaudaraan dan cara hidup yang tak biasa. Sekian, Pace E Bene. ***