religi

Kardinal Pietro Parolin Disebut Calon Terkuat Pengganti Paus Fransiskus Jelang Conclave, Ternyata Ini Alasannya

Rabu, 7 Mei 2025 | 11:49 WIB
Ilustrasi Conclave. Para kardinal berkumpul di Roma untuk konklaf tahun 1978, yang memilih Karol Wojtyła. (vatikannews)

PONTIANAKGLOBE.COM, VATIKAN -- Jelang Conclave untuk memilih Paus baru, nama Kardinal Pietro Parolin disebut-sebut sebagai kandidat terkuat untuk menggantikan mendiang Paus Fransiskus.

Conclave dijadwalkan berlangsung pada 7 Mei 2025 di Vatikan.

Baca Juga: IFG Gaungkan Literasi Keuangan di Hari Pendidikan Nasional 2025, Jangkau Mahasiswa di 13 Kampus Ternama

Sejumlah Kardinal dari berbagai negara telah disebut sebagai calon potensial. Di antaranya:

  • Kardinal Luis Antonio Tagle (Filipina)
  • Kardinal Peter Turkson (Ghana)
  • Kardinal Peter Erdo (Hungaria)
  • Kardinal Jose Tolentino Calaca (Portugal)
  • Kardinal Matteo Zuppi dan Kardinal Pietro Parolin (Italia/Vatikan)

Menurut pengamat Kepausan dan Pastor Paroki Campanario Sao Paulo di Brasil, Padre Ferdinand Doren, arah pemilihan Paus kali ini diprediksi akan mengarah ke tokoh moderat, setelah sebelumnya condong ke arah progresif.

Baca Juga: Maxime Bouttier Ungkap Nasihat Sahabat Saat Jalani Masa 'Break' dengan Luna Maya, Soroti Soal Usaha sang Artis

“Kemungkinan besar, para Kardinal akan memilih pemimpin yang mampu menjadi jembatan antara dua arus besar dalam Gereja Katolik, yakni kubu progresif dan konservatif. Pietro Parolin adalah sosok yang paling memenuhi kriteria itu,” kata Padre Ferdinand. 

Parolin dikenal luas sebagai diplomat ulung, menjabat sebagai Menteri Luar Negeri Vatikan, meski ia bukan berasal dari kalangan pastoral.

Namun, pengaruh dan jaringan internasionalnya menjadi nilai tambah dalam pertimbangan pemilihan.

Baca Juga: Yamaha NMAX Genap 1 Dekade: Inovasi Tiada Henti di Segmen Skutik Premium

Menurut Padre Ferdinand, Parolin saat ini diperkirakan sudah mengantongi sekitar 30 persen dukungan dari para Kardinal pemilih.

Kandidat lainnya yang memiliki peluang cukup besar adalah Kardinal Tagle, Zuppi, dan Turkson.

“Parolin dinilai mampu memperlambat, namun tidak sepenuhnya membatalkan, perubahan-perubahan progresif yang telah dimulai oleh Paus Fransiskus,” tambahnya.

Meski demikian, ia tidak menutup kemungkinan akan terjadi kejutan dalam Conclave, seperti saat terpilihnya Paus Fransiskus dulu.

“Dalam tradisi Katolik, kami percaya Roh Kudus membimbing proses pemilihan ini. Para Kardinal akan mempertimbangkan kebutuhan Gereja Katolik di era modern, bukan sekadar mempertahankan ideologi tertentu,” tutup Ferdinand. ***

Tags

Terkini