Namun, Kardinal Suharyo mengingatkan bahwa antara harapan dan kenyataan sering kali terdapat kesenjangan yang semakin melebar.
"Kita semua mengharapkan damai, tetapi perang semakin meluas. Kita mengharapkan kesejahteraan, tetapi perekonomian dunia sedang sulit. Setiap hari kita membaca berita tentang PHK dan berbagai kesulitan lainnya," ujarnya.
Oleh karena itu, ia mengajak seluruh masyarakat, khususnya umat Islam dalam momentum Ramadan ini, untuk terus membangun harapan agar kesenjangan antara cita-cita dan realitas tidak semakin jauh.
"Salah satu tanda harapan bagi bangsa ini adalah persatuan dan kebersamaan, sebagaimana yang kita alami hari ini. Dan yang menyatukan kita adalah Ibu Shinta dengan kebijaksanaan serta pengalamannya sebagai Ibu Bangsa," kata Kardinal Suharyo.
Ia pun mengajak semua yang hadir untuk menjadikan momen ini sebagai refleksi diri, agar masing-masing dapat menjadi penyebar harapan bagi sesama.
Menjelang waktu berbuka, acara diisi dengan penampilan Trio Calista Alina Niceta (CAN) yang membawakan sejumlah lagu untuk menghibur para tamu.
Selain itu, sebelum tausiah dari Shinta Nuriyah, acara juga dimeriahkan dengan pembacaan ayat suci Al-Qur’an, Saritilawah, serta pertunjukan tarian Sufi yang diiringi Hadroh.
Acara Buka Puasa Bersama ini menjadi simbol kebersamaan lintas agama yang terus dijaga demi mewujudkan Indonesia yang damai dan harmonis. ***