Lukisan sebagai Refleksi Spiritual
Lukisan-lukisan dalam Bishop’s Love Affair bukan sekadar karya seni, tetapi juga refleksi perjalanan batin seorang pemimpin spiritual.
Di antara karyanya, Monsinyur Didik mengabadikan dua tokoh yang menjadi teladan hidupnya, yakni Monsinyur Vincentius Sutikno Wisaksono dan Paus Fransiskus.
Kini, dua lukisan tersebut menjadi bagian dari koleksi utama di galeri pameran.
Melalui sapuan warna di kanvas, Monsinyur Didik membagikan kasih Kristus kepada umatnya.
Ia menegaskan bahwa dirinya tidak akan pernah lelah membagikan kasih Kristus, sebab Kristus telah lebih dulu mengasihinya.
Hal ini sejalan dengan prinsip hidup yang selalu ia pegang teguh: “Diligere sicut Christus dilexit” – Mencintai seperti Kristus telah mencintai.
Bagi panitia pameran, prinsip ini bukan sekadar ungkapan iman, tetapi juga sebuah panggilan hidup.
“Sebagai seorang gembala, Monsinyur Didik tidak hanya membimbing umat dengan kata-kata dan tindakan, tetapi juga dengan sapuan kuas yang penuh makna,” kata RP Andreas Kurniawan OP, Art Vice Director Bishop’s Love Affair.
Baca Juga: Uskup Agustinus Agus Dukung Pastor William Chang dengan Doa dalam Tugas Barunya
Tak hanya lukisan, pameran ini juga menampilkan Coat of Arms atau Lambang Kepemimpinan Monsinyur Didik.
Lebih dari sekadar simbol heraldik, lambang ini merupakan deklarasi spiritual, di mana setiap elemennya mencerminkan arah, panggilan, dan komitmen pelayanan dalam menggembalakan umat Keuskupan Surabaya.
“Kita diajak menyadari bahwa kasih adalah panggilan utama setiap orang beriman. Kasih bukan sekadar emosi, melainkan komitmen dan perjalanan yang mengubah hati,” ujar Agustina Wariky, Ketua Pelaksana pameran.
Pameran Bishop’s Love Affair bukan hanya sekadar apresiasi seni, tetapi juga ruang refleksi bagi umat untuk semakin memahami kasih dan pengabdian seorang gembala. ***